Melihat Filsafat Bekerja

Bagikan konten:

Apa yang kita lakukan jika filsafat telah tamat? (lihat esai saya: Filsafat Memang Telah Mati) Kalau kita seorang filsuf, kita tak akan begitu saja menerima klaim kematian filsafat. Apakah benar filsafat telah tamat? Filsafat yang mana dan yang bagaimana? Dalam esai The End of Philosophy and the Task of Thinking, Heidegger mengkalim bahwa filsafat telah berakhir. Kalau kita menerima klaim ini, pertanyaannya akan berbeda dengan yang saya ajukan di muka. Pertanyaannya akan jadi: apa yang kita lakukan setelah filsafat tamat? Sekarang, tergantung kita memilih berpijak di tanah yang mana. Dua pertanyaan itu lahir dari dua tradisi filsafat yang berbeda, kontinental dan analitik. Filsafat kontinental tidak membedakan dua hal: antara filsafat dan metafisika, antara metafisika dan ontologi. Heidegger, sebagai perwajahan filsuf kontinental, mengatakan bahwa filsafat adalah metafisika (philosophy is metaphysics). Bagi Heidegger, filsafat memang telah berakhir, tetapi lewat disiplin yang lain, misalnya sains, metafisika masih dibicarakan. Tentu hal ini terjadi ketika tidak ada pembedaan antara metafisika dan ontologi. Metafisika adalah ontologi dan ontologi adalah metafisika. Sains masih membicarakan Ada dari adaan (The Being of beings) yang juga merupakan pembahasan dalam metafisika. Jadi, keberakhiran filsafat dimaknai sebagai keberakhiran suatu universalitas Ada, atau keberakhiran Ada sebagai ada (Being qua being) yang merupakan objek metafisika klasik.

Berbeda dari tradisi kontinental, tradisi analitik membedakan antara filsafat dan metafisika, juga antara metafisika dan ontologi. Metafisika adalah bagian dari disiplin filsafat yang juga membahas tentang epistemologi dan aksiologi. Ditolak atau tidaknya metafisika sebagai Filsafat Pertama atau inti filsafat, hal itu tidak menjadikan metafisika sebagai filsafat itu sendiri, tetapi hanya sebagaian dari filsafat. Ontologi juga harus dibedakan dari metafisika. Jika metafisika membahas tentang apa yang ada, ontologi membahas tentang apa saja yang ada. Mari kita lihat perbedaannya. Metafisika mencari ada sebagai ada dalam segala aspek. Artinya, setelah membahas fisika yang mempelajari segala sesuatu yang bergerak, maka metafisika membahas ada sebagai ada yang tidak bergerak dan tidak digerakkan oleh entitas di luarnya. Jika fisika membahas objek fisik yang saling disebabkan dan menjadi sebab, metafisika mencari penyebab yang tidak disebabkan. Dari sinilah Aristoteles menemukan Causa Sui (penyebab yang menyebabkan dirinya sendiri). Pendek kata, metafisika membahas apa yang ada secara universal, tidak dibatasi ranah atau disiplin tertentu. Bagaimana dengan ontologi? Ontologi membahas tentang apa saja yang ada dalam ranah dan disiplin yang lebih sempit. Misalnya ketika kita ingin mencari basis ontologi dari disiplin ilmu sosial, yang kita pertanyakan bukan Ada sebagai ada, tetapi apa saja yang ada dalam hubungan sosial itu. Dari perspektif tradisi analitik, klaim Heidegger jelas cacat. Metafisika yang diinterpretasikan oleh Heidegger sebagai disiplin yang membahas Ada dari adaan, sebenarnya adalah disiplin ontologi. Tidak semua disiplin ilmu bisa dicari basis metafisiknya, tetapi semua ilmu pasti memiliki basis ontologisnya agar tinjauannya absah. Dengan demikian, metafisika bukanlah ontologi dan ontologi bukanlah satu-satunya filsafat.

Dua tradisi filsafat di atas berada dalam tarik ulur yang nyaris tidak bisa didamaikan. Tetapi keduanya bertemu, dalam perspektif Quentin Meillassux, dalam aliran yang dinamakan korelasionisme. Meillassoux membelah sejarah filsafat menjadi dua: pra dan pasca Kant. Filsuf sebelum Kant adalah filsuf yang membicarakan hakikat sesuatu, suatu esensi, suatu substrat, sementara filsafat semenjak Kant beralih membicarakan relasi sesuatu itu, dalam modus yang beragam: korelasi subjek-objek, korelasi noetiko-noematik, dan korelasi bahasa-acuan (lihat esai saya: Menggapai Pengetahuan yang Absolut dan Keniscayaan Kontingensi, Mungkinkah?). Entah kita setuju atau tidak dengan pembelahan ini (saya pribadi tidak setuju), yang jelas upaya dari Meillassoux ini sangat penting bagi kelangsungan filsafat. Meillassoux berupaya mengembalikan lagi Yang Absolut, meskipun akhirnya bukan esensi yang dia absolutkan, melainkan keniscayaan kontingensi. Dalam kerangka analisis korelasionisme, Yang Absolut telah hilang. Hal itu lebih-lebih tercermin dari filsafat posmo. Filsafat telah hilang dan menjadi ‘yang-tak-ditemukan’ dalam pandangan Derrida, jika diasumsikan bahwa filsafat adalah metanarasi dan logosentris. Melalui dekontruksinya, lebih khusus dIfferance-nya, Derrida menunjukkan bahwa dalam diri teks filosofis, yang ada hanyalah kebenaran yang ditunda, bukan kebenaran absolut. Oleh karenanya, teks hanya menyisakan jejak (trace) dari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri: tak ada pusat yang mengendalikan marjin, tak ada logos yang menyingkirkan mitos, dan tak ada oposisi biner yang maknanya stabil dan tak tergoyahkan.

Filsafat posmo masih banyak pengikutnya, dan bahkan mendominasi mode berpikir sejak paruh kedua abad lalu sampai sementara abad ini. Tetapi filsafat posmo bukan tanpa saingan. Di seberang sana, ada gerakan baru yang belakangan disebut dengan ‘filsafat kontemporer’. Salah satu pembesarnya adalah Alain Badiou yang memiliki murid Meillassoux. Kedua pemikir ini mengandalkan matematika sebagai acuan untuk mencapai Yang Absolut. Badiou, melaui Being and Event, menganggap bahwa metematika adalah ontologi, dan Meillassoux melalui After Finitude, mengklaim bahwa matematika mungkin dipakai untuk mencapai Yang Absolut. Kedua sama-sama berupaya menggapai Yang Absolut dan sama-sama melalui matematika, meskipun hasil akhirnya bisa sangat berbeda.

Apakah dengan demikian filsafat akan kembali bekerja?

Itu pertanyaan yang jawabannya tidak cukup satu kata. Kita akan kembali lagi kepada sejarah filsafat. Tak ada keraguan lagi bahwa filsafat lahir di Yunani dan tokoh awalnya adalah seorang bernama Thales. Tidak, bukan dari sana kita memulai filsafat. Filsafat adalah Sokrates. Dalam terminologi kontemporer, filsafat sebelum masa Sokrates, adalah filsafat alam yang bertujuan untuk meruntuhkan mitos-mitos kejadian alam. Sokrates adalah sang bapak karena dari dirinya-lah makna sesungguhnya dari filsafat itu ada. Filsafat secara etimologi bermakna cinta kebijaksanaan, bukan cinta kebenaran. Sejarah berkata bahwa filsafat pernah kehilangan kebijaksanaan dan bahkan akhir-akhir ini juga kehilangan kebenaran. Kedua-duanya semestinya tak terpisahkan, dan itulah filsafat. Sekali lagi, Sokrates adalah filsafat itu sendiri. Ketika seseorang datang kepada Sokrates untuk mengabarkan sesuatu tentang temannya, orang itu diuji dengan tiga ujian terlebih dahulu. Ujian itu adalah (i) ujian kebenaran, (ii) ujian kebaikan, dan (iii) ujian kegunaan. Untuk mencapai kebijaksanaan, kita tidak bisa memisahkan ketiganya. Karena dengan mengabaikan masing-masing dari ketiganya, akan memunculkan tiga kemungkinan buruk. (i) Mengabaikan kebenaran, kita akan menjadi kalangan post-truth (dan jika mengabaikan kebenaran absolut, kita akan menjadi kaum sofis). (ii) Mengabaikan kebaikan, kita akan menjadi barisan tirani. (iii) Mengabaikan kegunaan, kita akan menjadi gerombolan pengecut. Filsafat harus kembali kepada kebijaksanaan yang tak terpisahkan dari kebenaran. Jika keduanya hilang, sejarah mencatat, filsafat menjadi angan-angan belaka.

Hilangnya kebenaran menandai lahirnya apa yang oleh sementara pakar media dinamakan post-truth (pasca-kebenaran). Post-truth, sebagaimana yang didefinisikan oleh Merlyna Lim, adalah situasi di mana emosi dan kepercayaan pribadi lebih berpengaruh daripada fakta objektif. Menurut saya, penyematan post untuk truth sesungguhnya berlaku seperti meta untuk fisika. Meta dan post secara leterlek bermakna ‘setelah’, akan tetapi sesungguhnya secara terminologis merujuk pada keadaan sebelum. Metafisika bukanlah pelajaran setelah fisika, tetapi justru fisikalah pelajaran setelah metafisika. Begitu juga post-truth, ia bukanlah keadaan setelah kebenaran, tetapi justru sebelum kebenaran. Apapun klaim subjektifitasnya, baik emosi, kepercayaan pribadi, maupun dogma; semuanya mengisyaratkan pada keadaan pra-kritis. Keadaan itu berlaku ketika emosi, kepercayaan pribadi dan dogma diterima begitu saja tanpa dipertanyakan. Fakta objektif dinilai sejauh berdasarkan kepercayaan: jika sama dengan kepercayaan maka diterima dan jika tidak sama maka ditolak. Apakah penerimaan dan penolakan itu sudah melalui taraf kritis? Zaman sekarang, tak banyak orang yang melakukan dua penilaian sekaligus: (i) penilaian terhadap kepercayaan, dan (ii) penilaian terhadap fakta. Orang yang kehilangan penilaian yang pertama akan cenderung menolak agama, orang yang menolak penilaian yang kedua akan cenderung tertutup dan kolot. Apa yang harus dilakukan? Menilai kedua-duanya. Menilai kepercayaan ditempuh dengan jalan menelusuri batas-batas pengetahuan, sedangkan menilai fakta ditempuh melalui jalur observasi dan penelitian.

Sedangkan hilangnya kebijaksanaan menandai lahirnya apa yang Derrida sebut dengan ‘logosentrisme’. Logosentrime menghendaki adanya pusat, suatu logos, yang mampu menyingkirkan Liyan. Kebenaran dalam filsafat Modern senantiasa menjadi titik tujuan para filsuf. Demi menemukan kebenaran, mereka rela menyingkirkan yang-salah, dan demi menemukan suatu pusat, mereka harus menindas yang-pinggir. Kebijaksanaan di hadapan realitas pun hilang. Operasi kebenaran yang menindas ini menciri dalam aktivitas korporasi, di mana pengetahuan bisa menjadi alat untuk melegitimasi kekuasaan. Pengetahuan menjadi kekuasaan, seperti kata Michel Foucault. Pengetahuan akan hutan belantara dan kehidupan antah berantahnya bisa menjadi kekuatan kapitalis sebagai alat eksploitasi besar-besaran yang orientasinya selalu mengarah kepada surplus uang. Pengetahuan, akhirnya, lepas dari dimensi sosialnya, dan dengan demikian, pengetahuan hanyalah untuk pengetahuan, bukan untuk kebaikan dan perubahan sosial. Di zaman ini, kita praktis kehilangan kebenaran dan kebijaksanaan.

Kita menghadapi suatu dilema. Apabila kita kembali kepada kebenaran absolut, apakah kita akan menyingkirkan Liyan dan mengabaikan kebijaksanaan? Tidak, dengan syarat bahwa kembali kepada Yang Absolut harus disertai dengan pengakuan akan batas-batas pengetahuan. Meillassoux, dengan Realisme Spekulatif, menurut saya, bukanlah jawabannya. Yang Absolut dalam filsafat Meillassoux tidak bekerja di ranah epistemologi, ia beroperasi di gelanggang ontologi. Ranah epistemologi bisa mengklaim kebenaran absolut, sedang ontologi tidak. Keniscayaan kontingensi tidak mungkin ada di ranah epistemologi, sebab ia lebih dekat pada relativisme daripada absolutisme. Segala sesuatunya bisa berubah atau bahkan musnah dalam klaim Meillassoux, bahkan hukum alam dan hukum logika. Hanya tersisa kontingensi, suatu kejadian atau keadaan atau hukum yang lepas dari antisipasi kita, dan kontingensi inilah satu-satunya yang niscaya.

Jika hukum logika itu bisa melenggang ke lubang kontingensi, tak ada lagi pegangan, tak ada subjek-objek, tak ada noetiko-noematik, dan tak ada bahasa-acuan. Singkatnya tak ada relasi! Sifat spekulatif yang diletakkan untuk realisme memang suatu kejanggalan. Spekulatif biasanya digunakan oleh filsafat idealisme, yaitu dengan cara memandang dunia sebagai keutuhan, meletakkan konsep umum yang bisa menjadi acuan dalam menilai realitas yang menuntut untuk dideskripsikan. Realisme Spekulatif tentu memiliki acuan yang menjadikannya diterima. Acuan itu tidak lain, seperti yang saya sebutkan di atas, adalah teori himpunan Cantor. Bagaimana bisa kita kembali kepada Cantor jika menurut Meillassoux hukum epistemologis tak mungkin menjadi niscaya? Apakah dengan menerima matematika sebagai ontologi, Meillassoux memperlakukan teori himpunan sebagai satu-satunya yang sanggup mengantarkan kepada Yang Absolut? Bukankah dengan menerima teori ini berarti Meillassoux mengakui adanya produk sejarah manusia dan kemudian berangkat dari titik di mana sejarah pernah merintisnya?

Menerima Realisme Spekulatif sungguh mengundang banyak kejanggalan. Roy Bashkar dalam bukunya a Realist Theory of Science membagi dua dimensi pengetahuan manusia: (i) intransitif, dan (ii) transitif. Dimensi yang pertama mengatakan bahwa pengetahuan manusia dibentuk oleh konsep-konsep yang lahir dari perdebatan dalam masyarakat. Contohnya, teori relativisme Einstein adalah dialog kritis terhadap teori Newton. Relativisme tak akan lahir jika tidak bersinggungan dengan sejarah pemikiran. Dimenasi yang kedua mengatakan bahwa pengetahuan atas sesuatu itu mungkin jika ia bisa ada tanpa mengandaikan pengetahuan kita atasnya. Contohnya, gravitasi itu sudah ada sebelum Newton menemukan teori gravitasi. Jadi seandainya tidak ada seorang pun yang menemukan gravitasi, maka gravitasi tetap ada, dan jika ia ditemukan, maka keberadaan gravitasi adalah suatu keniscayaan itu sendiri. Roy Bashkar menamai filsafat sains-nya dengan Realisme Transendental. Kenapa realisme dan kenapa transendental? Dua perpaduan ini memang aneh. Sifat transendental ditemukan pertama kali dalam filsafat kritis Kantian. Jika transendentalisme Kantian bekerja dalam dunia intra mental, yaitu dengan menjadikannya syarat-syarat terjadinya pengalaman indrawi dan oleh karenanya ia tidak bisa menjadi objek pengetahuan, maka transendentalisme Bashkar bekerja dalam dunia ekstra mental, yaitu dengan menjadikan suatu hukum, entitas, dan kenyataan sebagai syarat bagi pengetahuan dan oleh karenanya dapat ada tanpa pengetahuan.

Roy Bashkar, menurut hemat saya, dalam denyut tertentu, adalah jawaban bagi filsafat. Realisme Meillassoux terbatalkan secara otomatis apabila ia mengandaikan matematika Cantorian sebagai acuan, lantaran ia adalah produk dari perdebatan dalam masyarakat. Teori himpunan Cantorian, yaitu pada bagian teorema transfinit adalah hasil dari dialog kritis terhadap teori kausalitas Humean. Jika demikian adanya, maka sisi realisme Meillassoux menjadi dogmatis, dan Meillassoux terjebak di lingkaran yang ia tolak sendiri: korelasionisme. Simpulan saya, filsafat hanyalah soal korelasionisme, dan hanya dengan begitu, kita akan senantiasa melihat filsafat bekerja.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan