Korelasi Objektif; Trik Membangun Emosi dalam Puisi

Bagikan konten:

Unsur emosi dalam sebuah puisi dapat menjadi standar untuk menilai baik-buruknya sebuah puisi. Puisi yang tidak diisi dengan emosi yang jelas atau bahkan tidak mengandung emosi sama sekali seperti halnya puisi pemikiran, hanya akan membuat pembaca bingung. Emosi dalam sebuah puisi bagai tanaman dalam sebuah taman. Secara sekilas, kita dapat mengatakan bahwa tanaman itu hanyalah penghias belaka, namun jika kita memperhatikannya lebih dalam, tanaman itulah yang sebenarnya menjadikan taman sebagai taman. Maka, puisi yang tidak mengandung emosi, akan terasa bagai taman yang gersang, taman yang tidak dapat dinikmati oleh semua orang.

Berangkat dari hal itu, emosi menjadi unsur penting bagi penyair ketika ia hendak menulis puisi. Sebelum mulai meletakkan dan menyusun kalimat, biasanya penyair akan menentukan dahulu emosi apa yang akan ia masukkan dalam puisinya. Dan emosi tersebut haruslah emosi yang berasal dari dalam dirinya, bukan hasil peng-imajinasi-an-nnya pada emosi orang lain. Kita dapat menjadikan puisi-puisi dari Chairil Anwar sebagai contohnya.

Saya yakin nama tersebut tidak asing bagi seorang yang menggeluti dunia kesusastraan, khususnya sastra Indonesia. Saya pribadi sudah mengenal nama Chairil Anwar sejak duduk di bangku sekolah dasar. Nama tersebut berulang kali muncul di halaman buku Bahasa Indonesia. Meskipun namanya sudah tidak asing lagi bagi saya, namun sampai saya duduk di bangku SMA, hanya satu puisinya yang saya ketahui, puisi yang berulang kali muncul di halaman buku Bahasa Indonesia itu: Aku Ini Binatang Jalang. Di kemudian hari, barulah saya mengetahui puisi-puisi Chairil lainnya. Salah satunya adalah puisinya yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil (1946):

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Puisi tersebut mengandung muatan emosi sedih, meskipun Chairil tidak menyebutkan kata sedih secara langsung dan gamblang di dalamnya. Namun melalui pilihan kosa kata dan permainan bahasa, ia mampu mengisyaratkan makna sesendu yang diinginkannya.

Dalam esai berjudul Hamlet and His Problems yang termuat dalam buku Sacred Wood, T. S. Eliot mengatakan, “The only way of expressing emotion in the form of art is by finding an ‘objective correlative’; in other words, a set of objects, a situation, a chain of events which shall be the formula of that particular emotion; such that when the external facts, which must terminate in sensory experience, are given, the emotion is immediately evoked.

Menurut T. S. Eliot, salah satu cara untuk membangun emosi dalam sebuah puisi adalah dengan menyisipkan emosi tersebut ke dalam suatu rantai situasi ataupun gambaran, sehingga pembaca dapat memahami emosi apa yang terkandung di dalamnya meskipun sang penyair tidak menyebutkannya secara langsung. Cara ini dapat disebut juga sebagai Korelasi Objektif. Lebih mudahnya, Korelasi Objektif dapat dipahami sebagai sekumpulan rantai situasi –yang setara– yang menyimbolkan emosi tertentu.

Tantangan bagi seorang penyair setelah menentukan emosi apa yang ingin dimasukkan dalam puisinya, adalah menentukan cara bagaimana ia akan membangun emosi tersebut. Hal yang membedakan puisi dari percakapan sehari-hari adalah cara bagaimana kita mengolah emosi yang ingin kita sampaikan. Di dalam percakapan sehari-hari, kita dapat mengatakan emosi tersebut secara terang-terangan. Ketika kita mencintai seseorang dan ingin mengungkapkan perasaan tersebut misalnya, kita bisa langsung berkata: aku mencintaimu. Namun dalam puisi, kita tidak dapat mengatakannya dengan semudah itu. Di dalam puisi, kita harus mampu menyembunyikan emosi yang ingin kita sampaikan dengan cara yang elegan. Penyair harus mampu membungkus perasaannya dan menyembunyikan kata ‘aku mencintaimu’ dengan sebaik mungkin. Banyak cara yang dapat dilakukan penyair untuk menyembunyikan emosinya seperti yang dilakukan Chairil Anwar dalam puisinya di atas.

Untuk menggambarkan emosi sedih yang ingin disampaikan kepada pembaca, ia memilih pelabuhan sebagai latar dengan menjadikannya sebagai suatu tempat yang suram, sebagai suatu tempat yang tidak memiliki keindahan sama sekali, tak ada kicauan burung atau desir ombak. Ia justru berkata:

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Banyak hal yang dapat diceritakan tentang sebuah pelabuhan, namun Chairil Anwar memilih untuk menyebut ‘gudang’, ‘rumah tua’, ‘kapal dan perahu tiada berlaut’. Gudang adalah tempat untuk menyimpan barang-barang yang sudah tidak terpakai. Seperti halnya dengan diksi ‘rumah tua’ dan juga ‘kapal dan perahu yang tidak berlaut’. Ketiga diksi tersebut memiliki korelasi yang sama, yaitu sebagai suatu benda yang diabaikan atau sesuatu yang sudah tidak terawat.

Nada serupa dapat kita temukan pada bait selanjutnya:

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Peletakkan kata sifat kelam, muram dan hilang pada bait tersebut, mengandung emosi yang sama. Berbeda dengan bait sebelumnya yang menggunakan Rantai Gambaran, pada bait ini Chairil menggunakan Rantai Situasi yang dialaminya ketika ia menulis puisi tersebut; ‘gerimis’, ‘kelepak elang yang menyinggung muram’, ‘tanah dan air yang tidur dan hilang ditelan ombak’. Kita sering menemukan penyair yang menggunakan diksi gerimis sehingga kata tersebut menjadi pilihan diksi yang klise. Namun di tangan Chairil, sesuatu yang klise itu justru menjadi titik kekuatan. Hal termudah untuk menjelaskan hal ini adalah karena Chairil meletakkan kata gerimis pada posisi yang tepat, dibantu dengan kata sifat yang membuntutinya serta objek-objek dengan unsur emosi yang sama.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Di bait terakhir, setelah membangun puisinya dengan Rantai Gambaran dan Rantai Situasi, kita mendapati Chairil memperlihatkan dirinya. Sebagai seorang penulis, ia seolah tak mau kehilangan kesempatan untuk tampil di hadapan pembacanya; Chairil yang sedang berjalan di semenanjung seorang diri dengan keputusasaannya yang ‘masih pengap harap’. Dan pada dua larik terakhir, emosi yang telah kuat menjadi semakin menguat dan berakhir pada ‘sedu penghabisan bisa terdekap’.

Terkait teori Korelasi Objektif ini, seorang penyair diperbolehkan untuk menggunakan jukstaposisi pada puisinya. Hal ini tentu berbeda dengan penganut Strukturalis yang ‘mengharamkan’ penggunaan jukstaposisi dalam merangkai bangunan puisi. Jukstaposisi dalam Korelasi Objektif digunakan sebagai penguat unsur emosi dalam puisi. Kita dapat menjadikan puisi Goenawan Mohamad yang Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi sebagai contoh:

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi

Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari

Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba

Kudengar angin mendesak ke arah kita

 

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat

Di luar detik dan kereta telah berangkat

Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata

Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Pada bait kedua sajak ini, /Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat/ dan /Di luar detik dan kereta telah berangkat/, terlihat ada lompatan imaji yang sangat jauh dari apa yang digambarkan di bait pertama. Dari berbicara mengenai beranda, lalu penyair melompat jauh dengan membicarakan tentang piano dan kereta. Tidak ada hubungan maknawi dari beranda, piano dan kereta. Namun dengan menggunakan teori Korelasi Objektif, lompatan tersebut mendapat justifikasi estetisnya tersendiri. Tujuan GM meletakkan piano dan kereta di dalam puisinya itu adalah untuk menguatkan unsur kesedihan. Seperti halnya kereta misalnya, kereta seringkali dijadikan sebagai simbol perpisahan.

Baik-buruknya sebuah puisi yang dibangun dengan cara Korelasi Objektif, tergantung dari seberapa kuat diksi yang diletakkan dan dihamparkan oleh penyair. Sebagaimana juga bergantung pada seberapa nyata emosi yang diletakkan penyair di dalamnya. Karena ketika penyair tak jujur dalam emosinya, ia tak akan mampu memanipulasi kebohongannya di dalam puisinya. Lebih buruk, puisinya hanya akan terlihat sebagai puisi palsu.

 

Facebook Comments
Bagikan konten: