Ilmu Maqûlât yang Memenuhi Kepala

Bagikan konten:

Semenjak mengenal ilmu Maqûlât, saya jadi sering memikirkan segala sesuatu secara absurd. Membayangkan semua hal di alam ini beterbangan dan antara satu zat dengan lainnya saling terpisah, seperti terpisahnya warna putih dengan tembok, warna biru dengan langit, buku yang dilepaskan dari identitas, warna, permukaan sehingga yang tersisa hanya kerangka dimensialnya (panjang, lebar, tinggi). Atau terpisahnya zat kebahagiaan, keberuntungan, kebaikan dari tubuh manusia itu sendiri.

Semenjak mengenal ilmu Maqûlât, saya seakan dibawa ke pemaknaan lebih mendalam terhadap objek-objek yang saya lihat. Warna misalnya, ia hanyalah sesuatu yang ada di dalam akal (hanya bisa dibayangkan) dan tidak ada wujudnya di realita. Warna bisa dilihat secara kasat mata hanya jika ia menempel pada zat lain. Warna putih memanifestasikan dirinya melalui tembok, sehingga kita bisa melihatnya. Maka, warna yang selama ini kita lihat bukan hakikat dari warna itu sendiri, melainkan sesuatu yang ditempeli warna tersebut yang membuat si warna terlihat. Dengan begitu jika ditanya ‘apa itu warna?’ dan kita bisa mendefinisikannya dengan baik, maka itu berarti kita betul-betul mengenal hakikat warna.

Saya benar-benar tertarik dengan ilmu Maqûlât hingga saya merasa bahwa partikel-partikel dari ilmu tersebut beterbangan secara acak dan memenuhi kepala saya. Karenanya saya ingin berbagi kepada Anda tentang apa yang sudah saya pelajari hingga saat ini. Dengan berbagi, saya harap partikel-partikel itu menjadi tersusun rapi di kepala saya. Baik, mari kita mulai!

Ilmu Maqûlât atau biasa disebut al-Maqûlât al-‘Asyr (Ten Categories) merupakan ilmu yang membahas tentang hal-hal universal di alam semesta. Lebih spesifik, para filsuf mendefinisikan al-maqûlât sebagai genus tertinggi yang mengategorikan segala sesuatu. Sedangkan secara bahasa, al-maqûlât berarti hal-hal yang dibicarakan. Singkatnya, ilmu ini membahas tentang hakikat dari ‘adanya’ segala sesuatu, yang melalui kategorisasinya, kita dapat membedakan apakah sesuatu tersebut ‘ada’ secara independen atau tidak. Lalu mempertanyakan independensi sesuatu dalam memanifestasikan dirinya, bagaimana sesuatu tersebut dapat eksis dan berwujud? Selain itu, untuk membedakan manakah hal yang pokok-substansial, mana yang hanya tempelan-aksidental.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, ilmu ini lebih familiar dengan sebutan al-Maqûlât al-‘Asyr (Ten Categories), karena Aristoteles sebagai penyusun ilmu ini membagi sepuluh kategori dalam pembahasannya. Sebelum mengklasifikasikan ke dalam sepuluh kategori, Aristoteles membagi segala sesuatu yang ada di dunia ini ke dalam dua kategori besar, yaitu al-jauhâr (sesuatu yang untuk menjadi ‘ada’ tidak membutuhkan sesuatu yang lain atau substansi) dan al-’aradh (sesuatu yang hanya akan ‘ada’ jika menempel pada sesuatu yang lain atau aksiden).

Sepuluh kategori Aristoteles tersebut adalah al-jauhâr, dan sisanya merupakan al-’aradh yang dibagi ke dalam sembilan kategori, yaitu al-kamm (kuantitas), al-kaif (kualitas), al-idhâfah (relasi), al-ain (tempat), al-matâ (waktu), al-wadh’ (posisi), al-milk (kepemilikan), al-fi’l (aktivitas) dan al-infi’âl (hasil aktivitas). Kesepuluh pembagian ini merupakan hasil induksi tidak sempurna (istiqrâ’ naqish) Aristoteles yang diperdebatkan, karena ia tidak mungkin meneliti semua juz’iyyât (hal-hal parsial) di muka bumi ini. Mutakallimin menentang pembagian ini, mereka berpendapat hanya ada tiga kategori saja; al-jauhâr dan dua al-’aradh (al-kaif dan al-ain).

Aristoteles menyusun ilmu ini untuk mengetahui hakikat segala ciptaan di semesta. Oleh saintis, ilmu yang erat kaitannya dengan filsafat ini, sangat dibutuhkan dalam merumuskan banyak teori. Salah satunya teori relativitas Einstein karena diperlukan pemahaman detil akan hakikat ruang (al-makân) dan waktu (al-matâ). Sedangkan mutakallimin mempelajari Maqûlât untuk membahas seputar zat Allah, yang menghasilkan perdebatan antara Asy’ariyah dan sekte lainnya tentang kadim atau hâdisnya sifat Allah.

Pemaknaan keseharian seperti yang saya contohkan di awal tulisan juga banyak penerapannya, semisal relativitas jauh-dekatnya sesuatu. Sesuatu dikatakan dekat jika ia mempunyai perbandingan dengan sesuatu lain yang lebih jauh. Begitu juga memaknai istilah ayah-anak (ubuwwah-bunuwwah), seseorang tidak akan disebut ‘ayah’ jika tidak ada ‘anak’, dan sebaliknya. Ini masuk ke dalam maqûlât al-idhâfah (relasi).

Dalam memaknai komponen manusia misalnya yang terdiri dari tubuh (jism), ruh (nafs) dan sifat. Wajah yang merupakan bagian dari tubuh dan ruh (nafs-nya) adalah dua hal yang berbeda. Keduanya kemudian ditempeli sesuatu bernama sifat. Kita tidak bisa mengatakan seseorang yang berwajah rupawan pasti baik pula sifatnya, karena jelas, ketiganya (tubuh, ruh dan sifat) merupakan hal yang berbeda. Hal itu membuat saya semakin sadar bahwa semua itu hanya tempelan. Cantik-ganteng, tinggi-pendek, putih-hitamnya seseorang hanyalah casing. Jika kita melepas casing itu, menyisakan substansi yang sama, yaitu manusia itu sendiri.

Saya tahu saya terdengar seperti seseorang yang sedang memberi perkuliahan singkat tentang ilmu Maqûlât kepada Anda, tapi hanya ini yang bisa saya lakukan untuk menata kembali keacakan yang terjadi di kepala saya. Terakhir, dengan memikirkan hakikat segala sesuatu, saya berharap bisa menjadi lebih bijak dalam menilai dan bertindak. Saya tak tahu tujuan apa yang ingin Anda capai ketika mempelajari ilmu Maqûlât, tapi apa pun itu, saya ingin berterimakasih karena Anda sudah mau menjadi teman berbagi saya.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan