Gerakan Imajisme yang Tak Berumur Panjang

Bagikan konten:

Gerakan Imajisme secara resmi diperkenalkan oleh Ezra Pound dan kawan-kawannya pada tahun 1912. Gerakan Imajisme adalah salah satu dari banyaknya gerakan yang muncul di era modern dan menjadi salah satu gerakan paling berpengaruh di daratan Inggris dan Amerika pada saat itu. Menurut W.Pratt dalam bukunya yang berjudul The Imagist Poem, ada tiga buah kelompok yang paling berpengaruh dalam perkembangan gerakan ini: the School of Images, Des Imagistes dan Amygism.

Kemunculan gerakan ini pada awalnya bertujuan untuk melawan dominasi Romantisme Georgia yang sedang tenar pada saat itu. Para pionir gerakan Imajisme menganggap bahwa apa yang dilakukan Romantisme sangat tidak hati-hati dan cenderung berantakan. Menurut mereka, para penganut Romantisme terlalu banyak menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak diperlukan sehingga mengurangi kekuatan makna puisi itu sendiri. Berangkat dari sini, Imajisme menawarkan sebuah prinsip yang menekankan perampingan badan puisi.

Di tulisan ini, saya juga tidak akan mengulik lebih jauh tentang gerakan Imajisme sebagai sebuah gerakan itu sendiri. Ataupun membahas prinsip-prinsip Romantisme yang dibantah oleh penganut Imajisme. Saya lebih tertarik membincangkan prinsip-prinsip apa yang sebenarnya dianut oleh gerakan Imajisme dan bagaimana cara menerapkannya dalam sebuah puisi.

Pada keadaan kenyataanya, tidak banyak puisi yang berhasil diciptakan oleh penganut gerakan Imajisme yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka ciptakan sendiri. Secara garis besar, ada tiga prinsip umum yang ditekankan oleh gerakan ini: tidak bertela-tele, kepadatan kata, dan penyesuaian ritme. Yang perlu digarisbawahi, terdapat banyak teknik kepenulisan puisi ala Imajisme.

Yang pertama harus kita ketahui adalah penggunaan imaji. Sejauh apapun teori Imajisme berkembang, imaji adalah senjata utamanya. Perbedaan yang muncul hanya terletak pada teknik penerapannya. Edward Storer sebagai pencetus teori ini, meyakini bahwa imaji seharusnya ditulis dengan cara deskriptif. Ia mencontohkannya dalam puisinya yang berjudul Street Magic:

One night I saw a theater,

Faint with foamy sweet,

And crinkled loneliness

Warm in the street’s cold side.

Pada puisinya yang ini, Storer menceritakan pengalamannya berjalan-jalan di suatu jalanan yang ia sebut sebagai ‘Magic Street’. Ia menggambarkannya secara deskriptif; faint with foamy sweet and crinkled loneliness. Puisi ini memang berusaha untuk menerapkan prinsip Imajisme, namun kita masih menemukan banyak kata sifat yang tidak penting. Ada semacam tumpang-tindih dalam menerapkan teori yang dicetuskan oleh Storer ini. Di satu sisi, kita dituntut untuk menjelaskan. Dan di sisi lain, kita dituntut untuk tidak menggunakan terlalu banyak kata yang tidak penting.

Teknik kedua, menggunakan analogi. Teknik ini pertama kali dicetuskan oleh T.E Hulme dan kemudian didukung oleh Ezra Pound. Penganalogian ini dilakukan dengan memperhatikan dua hal: kekonkretan dan penjajaran. Kekonkretan yang dimaksud adalah setiap imaji haruslah sesuatu yang dapat dilihat, bukan malah sebaliknya. Hal ini berbanding terbalik dengan puisi Storer yang meletakkan imaji tak terindra; crinkled loneliness. Lebih jauh lagi, T.E Hulme berargumen bahwa penganalogian tidak pernah sesederhana itu untuk dapat menciptakan efek emosi yang diinginkan agar pembaca seakan memasuki dunia yang berbeda (through-the-glass-effect). Terkait penganalogian ini, kita dapat berkaca melalui puisi Hulme yang berjudul Autumn:

A touch of cold in the autumn night— 

I walked abroad, 

And saw the ruddy moon lean over a hedge 

Like a red-faced farmer. 

I did not stop to speak, but nodded, 

And round about were the wistful stars 

With white faces like town children.

Penganalogian yang ia gunakan terletak di larik keempat; like a red-faced farmer. T.E Hulme menjajarkan the ruddy moon lean over a hedge selayaknya red-faced farmer. Secara sekilas, T.E Hulme terlihat berhasil menerapkan prinsip-prinsip Imajisme dengan tidak bertela-tele dan konkret. Namun ia gagal memilih penyejajaran yang tepat dengan imaji yang telah ia buat, karena tidak semua orang dapat menangkap penyejajaran antara bulan dan wajah merah tukang kebun. Selain itu, pengulangan judul dalam bait di atas termasuk sikap pemborosan.

Menurut saya, salah satu penyair yang berhasil menerapkan teori gerakan ini adalah puisi dari Ezra Pound. Puisinya yang berjudul in a Station of Metro dapat kita jadikan sebagai contoh untuk membaca penggunaan teknik analogi Imajisme yang tepat:  

In a Station of Metro

The apparition of these faces in the crowd;

Petals on wet, black bough.

Ezra Pound menyejajarkan the appartion of these faces in the crowd dengan petals on wet, black bough dalam puisinya tersebut. Menurut saya, ia berhasil melakukan penyejajaran sesuai dengan teori Imajisme. Pertama, objek yang ia jadikan penganalogian adalah sesuatu yang dapat dilihat oleh mata kita dan bukan sesuatu yang bersifat personal. Kedua, objek yang ia jadikan penganalogian berhasil membawa kita ke dunia yang berbeda through-the-glass-effect. Selain itu,Ezra Pound juga tidak menyebutkan judul secara berulang dalam puisinya.

Melalui tulisan ini, saya ingin menunjukkan betapa sulitnya untuk menerapkan prinsip-prinsip yang dicetuskan gerakan Imajisme bahkan untuk para pencetusnya sendiri. Karenanya tidak mengherankan jika Imajisme tidak mampu bertahan lama. Tambal sulam teori memang terjadi, namun tak banyak perkembangan yang terjadi dalam ranah praktiknya. Namun bagaimanapun, Imajisme telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam dunia kesusastraan, khususnya dalam puisi. Bahkan tidak sedikit para penyair di zaman sekarang mengembangkan spirit dari teori Imajisme, walaupun mereka menyebutnya dengan nama yang berbeda.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan