Film Puitis The Silence dan Petualangan yang Gagal

Bagikan konten:

Mohsen Makhmalbaf mewarnai filmnya yang berjudul The Silence (1998) agak berlebihan, membuat saya pangling dengan gradasi film Iran sebelum tahun 2000an yang biasanya suram atau kelewat cerah. Kesuraman atau kecerahan yang hanya melibatkan warna monoton, terutama pada pakaian wanita yang diwajibkan mengenakan chadoor yang polos dan tak berpola. Sedang The Silence diberi suguhan warna yang bervariasi, para wanitanya dikenakan pakaian berwarna-warni, para lelakinya diseragamkan warna-warna terang, buah-buahan ditajamkan kontrasnya. Mereka seperti kembali ke zaman Persia dahulu kala dengan pakaian tradisional yang cerah dan berwarna, melawan hegemoni yang diterapkan oleh Republik Islam Iran.

Sebenarnya spirit warna-warni ini adalah lanjutan dari film pertama dalam Trilogi Puitis-nya Mohsen, yang berjudul Gabbeh (1996). Gabbeh bercerita tentang seorang perempuan yang tiba-tiba muncul di atas gabbeh (karpet persia) yang baru dibersihkan di sungai. Film ini mengandalkan reaksi kita terhadap warna yang cerah dan tajam, bermain dengan imaji visual kita agar memberikan perhatian khusus pada cerita yang sedang disampaikan. Sedang film The Silence, kita bisa tahu dengan melihat judulnya yang diterjemahkan secara harfiah dari Sokout, akan bermain-main dengan pendengaran kita. Sebuah fantasi yang lahir dari ketidakbisaan Mohsen mendengar atau melihat keindahan di masa kecilnya, bukan karena ia buta atau tuli, tapi karena larangan keras dari orangtuanya. Karakter yang ia ciptakan adalah seorang anak yang buta sungguhan dan memiliki kepekaan lebih terhadap suara.

Kita tidak mengetahui asal-usul Khorsid (Tamineh Normatova), si tokoh utama, sejak awal dia selalu memejamkan matanya. Yang jelas ia tak bisa melihat, tidak dijelaskan alasan mengapa ia tak bisa melihat dan mengapa digambarkan matanya terpejam bukannya dibiarkan terbuka tapi tak bekerja. Pilihan ini memang ini tidak dijelaskan oleh Mohsen, apakah ketidakmampuan akting si Tamineh atau bentuk simbolis tak mau membuka mata atas apa yang bisa ia dengar dengan baik. Saya curiga kemungkinan kedua yang dimaksud Mohsen. Karena akting khas neo-realisme yang melibatkan aktor-aktor non-profesional tidak  mengejutkan lagi kekakuannya. Tampak disengaja menyampaikan cerita dengan wajah- wajah dan ungkapan dialog dalam ekspresi yang datar. Saya rasa itu untuk tujuan teatrikal dan tetap bisa dinikmati seperti menonton film-filmnya sutradara Finlandia Aki Kaurismäki.

Ada dua penekanan yang ingin saya diskusikan secara singkat dari pengalaman menonton film The Silence ini. Yang pertama adalah sinematika puitis dan yang kedua adalah siasat struktur jagat petualangan yang terselip dalam film drama sunyi ini. Mari kita mulai dengan yang pertama, bagaimana bisa film disampaikan dengan puitis? Puisi adalah bangunan dua struktur yang berbeda, dari strutur kata-kata dan juga struktur peristiwa, setidaknya itu yang disimpulkan Jonathan Culler, dosen sastra di Universitas Cornell dalam bukunya seri A Very Short Introduction tentang teori sastra. Proses penulisan dan pembacaan puisi tidak hanya mempertimbangkan kerumitan struktur kata-kata yang seringkali sampai ke huruf-huruf dan pelafalannya, tapi juga pengalaman histori si penyair yang struktur penceritaannya tak jarang tersembunyi  dalam penyusunan kalimat yang sudah sedemikian kompleks. Ia sering kali membuat kita sebagai pembaca tersesat dalam penafsiran-penafsiran. Sehingga strukturnya memang tidak lazim untuk dialih-mediumkan kepada bentuk seni yang lain, misalnya diadaptasi menjadi film atau teater.

Oleh karenanya dua elemen penting yang dimiliki film adalah naratif dan sinematika. Penggabungan dua elemen ini memungkinkan karena struktur naratif memiliki alur dan plot yang bisa membuat sebuah cerita terasa masuk akal. Tentu saja dalam perkembangannya naratif dan puisi sering berbenturan dan menjadi gaya tersendiri. Akan tetapi penyampaian sebuah cerita secara teoretis tidak selazimnya menyesatkan makna yang diterima pembaca melalui narasi yang disampaikan. Alur dan plot akan bekerja sebaik mungkin memberi nalar logis berjalannya sebuah cerita. Bahkan anak kecil saja akan tahu jika kita berhenti membaca sebuah dongeng sebelum selesai, dan mereka akan menanyakan kelanjutannya.

Manusia memang punya naluri untuk merespon sebuah naratif dengan rasa penasaran yang tinggi, karena begitulah biasanya bagaimana kita mengetahui dan mempelajari suatu hal. Kita punya naluri yang berbeda ketika berhadapan dengan sebuah puisi. Ada pertahanan tertentu untuk berkespektasi terdapat permainan diksi dan gaya bahasa yang mempengaruhi makna yang akan kita terima dan pahami. Bagaimana sifat puitis bisa bekerja dengan film yang mempunyai nalar naratif? Bukan hal yang mustahil, apalagi kalau itu sekadar sebuah bentuk klaim. A Poetic Trilogy (Gabbeh, The Silence, The Gardener) adalah trilogi yang Mohsen namai sendiri. Saya tidak sedang mengejek apalagi meragukan pandangan sinematik beliau. Saya justru mengagumi keberanian beliau atas klaim puitis untuk tiga filmnya itu.

Mohsen berbeda dengan Abas Kiarostami yang mendapat sematan sinematika puitis dari para kritikus barat. Bahkan gaya sinematografinya juga dinilai sebagai pergerakan kamera yang puitis, khususnya dalam film Taste of Cherry (1997). Jika Anda belum pernah menontonnya memang agak sulit bagi saya untuk menggambarkannya, merujuk pada kompleksnya pemaknaan dalam puisi itu sendiri. Belum lagi jika dibenturkan dengan visual yang abstrak, pada akhirnya kita hanya bisa memaklumi sebuah karya seperti saat melihat atau menikmati karya bercorak pascamodernisme.

Tapi setidaknya untuk berupaya menjabarkan kepuitisan film The Silence, kita bisa memerhatikan dialog antar tokohnya. Dalam dunia teater ada genre drama puitis di mana para lakonnya mengucapkan dialog dalam bentuk bait sesuai dengan naskahnya yang berbentuk verse, seperti kebanyakan naskah Shakespeare. Banyak sekali pengucapan puitis yang ditanggapi dengan sureal oleh tokoh-tokoh dalam film The Silence. Yang masih membayang dalam benak saya adalah ketika Khorsid ingin mengejar seorang pemain setar (semacam gitar tradisional di Iran, seperti oud  di Mesir tapi lehernya lebih kecil dan jumlah senarnya lebih sedikit) karena musiknya begitu bagus di telinganya. Tiba-tiba ada seorang penarik gerobak menawarkan tumpangan kepada Khorsid dan bertanya, “Mau kemana?” Lalu dijawab Khorsid, “Aku ingin mengejar musik.” Kemudian ditanggapi si anak penarik gerobak, “Ongkosnya 10 soum, ya!” Dan mereka berdebat soal harga untuk beberapa saat. Ia tidak bertanya di mana musik itu, kemudian ketika sudah sampai ternyata kanyataannya belum sampai tapi Khorsid sudah diturunkan. Kita akan agak kesulitan memahami naratif ini karena dibangun oleh kerangka yang puitis.

Dari segi sinematografinya sekalipun sudah meninggalkan jejak puitis, dengan gaya yang monoton (setiap tokoh hanya diberi satu sudut kamera, bahkan ketika wide shot tidak ada pengalihan kepada medium shot agar kita bisa mengamati dari dekat), ketika kamera berjalan menunjukkan wajah para penjajak roti dan buah-buahan dengan seksama tanpa dibelokan dengan patahan editing atau angle kamera yang tak lazim. Paduan suara alam yang renyah seperti kerikil yang terinjak, air sungai yang berkecipak, angin yang bersiul, lalu suara para tokoh yang bercakap-cakap dengan nada datar, musik instrumental yang mengalun dari dawai setar dengan volume tak berlebihan, bahkan suara yang dihasilkan dalam film menciptakan suasana damai yang puitis.

Kemudian setiap laku tokohnya, terutama Khorsid, bisa menciptakan puisi itu sendiri. Ketika setelah kehujanan Khorsid tiba-tiba tertidur di pantai, di waktu yang lain ia tertidur di tepi danau dan tubuhnya diselimuti daun-daun kering. Lakunya yang tertidur di tempat-tempat puitis itu tidak diberikan konklusi apa-apa. Bagaimana ia bisa berada di situ, bagaimana ia setelah beranjak dari tempat itu, tidak diberi penjelasan naratif sama sekali. Atau ketika ia berlarian seperti kuda di pinggir sungai diiringi musik para penggembala, dibarengi dengan kuda putih berlarian juga di tempat yang sama tapi dalam frame yang berbeda. Mereka bersamaan dalam ruang dan waktu berbeda oleh patahan editing yang beriringan.

Kemudian mari masuk ke dalam pembahasan yang kedua, tentang siasat struktur jagat petualangan. Drama sunyi ini, seperti drama sunyi-drama sunyi khas Iran lainnya, tidak akan memberi suspense yang berlebih kepada para penonton. Kebanyakan mereka hanya memberi kedalaman interaksi antara karakter. Tapi saya pernah membaca esai Marcelus Ungkang tentang siasat struktur novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi A Pareanom. Ia merujuk struktur dongeng oleh Joseph Campbell dan Christopher Vogler yang membagi dua model bercerita; jagat galib dan jagat petualangan.

Jagat galib atau kebanyakan itu menggunakan optionlock (pembatasan pilihan) sedang jagat petualangan menggunakan timelock (pembatasan waktu). Bagaimana saya bisa mendeteksi jagat petualangan dalam film The Silence ini? Cerita yang terbangun dalam film ini diawali dengan sebuah tenggat dari tuan tanah untuk ibu si Khorsid agar segera membayar sewa rumah dalam empat hari, jika tidak mereka berdua akan diusir. Maka Khorsid yang punya kemampuan lebih dalam mendengar dan menangkap nada bekerja untuk seorang penjual alat musik tradisional sebagai petugas setem setar.

Menariknya, setelah Khorsid menjalani harinya yang selalu berakhir buruk (karena ia punya kebiasaan mengikuti musik di manapun ia berada, sehingga sering telat masuk kerja), kita akan terlempar lagi ke ruang putih yang ternyata adalah rumah Khorsid dan si tuan tanah akan datang lagi menggendeor pintunya. Kemudian ibunya, sebagai pemberi misi dalam jagat dongeng, akan memberi tahu tinggal berapa hari tenggat waktunya. Begitu terus sampai tinggal sehari lagi. Kita akan terus merasa dikejar pertanyaan, apa yang mesti ia lakukan untuk membantu ibunya? Kita berimajinasi Khorsid akan menyelesaikan petualangannya dan mencapai tujuannya. Tapi kemudian para pelanggan dari toko tempat ia bekerja mengembalikan alat musik yang telah mereka beli. Kita dihadapkan kenyataan bahwa kemampuan bermusik Khorsid ternyata tidak seberapa. Begitu banyak simpati terberi tidak berarti lakon kita mampu membayar penantian kita akan kemenangannya.

Pembatasan waktu dan rintangan-rintangan ini sebenarnya bila kita cermati sudah bekerja secara efektif untuk menahan penonton dari kursinya agar tidak kemana-mana. Mungkin kita akan membayangkan kemegahan karakter August Rush (di film dengan judul August Rush, 2007) yang menemukan orangtuanya melalui musik. Kita selalu berprasangka bahwa Khorsid adalah jenius musik yang mempunyai bakat alami. Tapi tidak, dia hanyalah anak buta yang sering tersesat karena mengejar musik.

Petualangan yang tidak membuahkan hasil apa-apa, referensi lagu Beethoven (yang entah dari mana Khorsid mendengarnya, atau justru jadi rujukan kejeniusannya dan disetarakan dengan sang maestro yang tuli itu), sinematografi yang monoton, kesemuanya terasa telah membuka pintu-pintu puitis sebagaimana klaim Mohsen terhadap triloginya. Jika naratif memberikan nalar pemahaman yang bisa diterima oleh logika kita, bisa jadi film puitis ini, sebagaimana salah satu fungsinya, bekerja lebih baik dalam proses memahamkan perasaan kita. Kita akan mengapresiasi Khorsid bukan sebagai seorang jenius dalam musik, bukan sebagai karakter yang pantas mendapat simpati kita, tapi sebagai cerminan diri kita yang seringkali tersesat dan sedang mencari jalan kembali.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan