Dororo dan Hyakkimaru; Kesangsian tentang yang Baik dan Buruk

Bagikan konten:

Di suatu sore, ingatan saya mencoba mengulang-ulang lagi cerita dari anime Dororo. Saya terpantik mengingatnya setelah membaca kabar-kabar yang sedang ramai. Barangkali ada sesuatu yang mirip atau serupa antara kabar-kabar itu dengan cerita Dororo.

Sebenarnya, ketika awal tahun lalu menonton Dororo, anime ini mengingatkan saya pada tayangan televisi di masa kecil, semacam Nyai Blorong atau kisah tentang pesugihan yang lain. Kisah tentang seseorang yang meminta kekayaan atau kemakmuran dan menjadikan seseorang untuk menjadi korban. Bedanya, pada tayangan televisi itu, setan dan penyembahnya yang diceritakan dari awal hingga akhir cerita. Sedangkan dalam anime Dororo, tokoh utama yang diceritakan adalah tumbalnya, Hyakkimaru.

Berbeda dengan tayangan televisi itu yang awalnya menceritakan calon penyembah setan secara panjang lebar; si calon penyembah mendapat masalah, bingung, putus asa dan tidak punya pilihan selain menyembah setan dan memberikan tumbal. Sedangkan dalam anime ini, kita akan mendapati plot yang diawali dengan adegan yang jelas, kuat dan tidak sia-sia.

Dororo sendiri berkisah mengenai seorang anak yang dikorbankan oleh ayahnya demi kekuasaan. Daigo Kagemitsu. Ayah Hyakkimaru itu meminta pertolongan pada dua belas iblis untuk memberikannya kekuatan demi menguasai seluruh wilayah di Jepang. Hyakkimaru pun lahir tanpa empat puluh delapan anggota tubuhnya, ia dibuang ke sungai dan ditemukan oleh Jukai, seorang dokter yang mampu membuat anggota tubuh buatan. Namun, ke mana pun Hyakkimaru berada akan selalu ada iblis yang menginginkan nyawanya. Dan ketika ia telah membunuh iblis, satu organ tubuhnya akan kembali muncul. Kemudian ia memutuskan melakukan perjalanan untuk mengembalikan organ tubuhnya. Di tengah perjalanan itu, ia bertemu dengan seorang pencuri cilik bernama Dororo yang nantinya akan membantu dirinya dalam setiap perjalanannya.

Kisah Dororo dan Hyakkimaru benar-benar petualangan yang asyik dan menegangkan. Apalagi dengan karakter keduanya yang bertolak belakang. Dororo adalah sosok yang riang dan banyak tingkah sedangkan Hyakkimaru lebih suka diam. Ceritanya pun tidak bertele-tele. Di setiap episode selalu diakhiri dengan keberhasilan mereka membunuh iblis dan mendapatkan kembali satu organ tubuh Hyakkimaru. Episode selanjutnya dimulai dengan petualangan dan persoalan serta iblis yang lain. Dan pada akhirnya, saya menunggu aksi Hyakkimaru melenyapkan iblis.

Sayangnya, alur seperti itu hanya berjalan sampai pada episode 10. Episode seterusnya justru berjalan lebih lambat, dan itu membuat saya kurang nyaman. Karena rasanya terasa sangat berbeda dengan sebelumnya. Cerita seakan dipaksakan agar tidak segera selesai. Padahal cerita aslinya, memang pendek. Barangkali, rasanya akan berbeda jika pelambatan itu dilakukan secara bertahap.

Perubahan tempo cerita itu sempat membuat saya bimbang, apakah harus melanjutkan untuk menontonnya atau tidak? Sedangkan anime lain yang rilis di musim itu, tidak semenarik kisah dari Dororo. Saya juga menjadi bimbang, apakah harus mengatakan anime ini baik atau buruk? Padahal, sebelum cerita itu melambat, saya sangat yakin bahwa Dororo adalah anime yang bagus. Kisahnya mengingatkan saya tentang anime Katanagari yang menceritakan petualangan Shichika dan Togame yang mencari dua belas pedang legendaris. Bedanya jalan cerita di Katanagari lebih stabil daripada Dororo.

Kenapa akhirnya saya tidak yakin soal baik atau buruknya anime ini, akan bertambah ketika bertemu dengan adegan yang dipaksakan. Misalnya di episode terakhir saat Jukai, si ibu, dan Tajomaru dibiarkan terbakar dan mati tanpa berupaya untuk selamat. Padahal mereka jelas bisa menyelamatkan diri bersama Hyakkimaru dan Dororo. Saya melihat pemaksaan agar ceritanya tidak berakhir bahagia.

Tetapi apapun itu, akhirnya saya menyelesaikan anime Dororo ini. Mungkin karena temanya menarik. Atau mungkin sudah terlanjur di tengah jalan dan tidak ada anime lain yang terlalu menarik.

Barangkali topik yang paling kentara dalam anime ini ialah tentang penguasa yang memaksa orang lain untuk mengorbankan diri mereka, demi kepentingan ‘masyarakat’ dengan berbagai pembenaran. Misalnya Daigo yang mengorbankan Hyakkimaru, ataupun cerita masa lalu dari Jukai dan Dororo.

Saya pikir, sejarah sampai hari ini juga telah mencatat peristiwa pengorbanan-pengorbanan seperti itu. Misalnya, penguasa di masa orba melenyapkan orang-orang PKI dan kemudian berlanjut terhadap siapa pun yang menentang penguasa. Sebelum itu kebanyakan dari kita tentu pernah mendengar penguasa Jerman menjebloskan orang-orang Yahudi ke dalam oven. Alasannya, demi kepentingan orang-orang kulit putih.

Namun terlepas dari tema cerita, saya sangat menikmati latar di Jepang pada zaman dulu dan suasana suramnya yang disuguhkan anime ini. Apalagi aksi yang ditampilkan tetap memukau sekelas dengan anime-anime terbaru. Bahkan sepuluh episode pertama anime ini, saya menghabiskannya dalam sekali duduk.

Separuh awal episode perdananya memaparkan adegan-adegan yang lumayan sangar. Seorang pria masuk ke sebuah kuil yang disebut aula neraka dan membunuh biksu tua yang sedang sembahyang. Petir dahsyat menyambar di tengah hujan deras. Daigo sangat yakin dan ambisius saat akan melakukan perjanjian dengan para iblis. Bahkan kata-kata seorang biksu dimentahkannya.

“Setelah anda menyimpang, satu-satunya yang menanti anda hanyalah neraka.”

“Biksu, neraka adalah dunia ini. Jalan budha yang kau lalui selama ini tidak pernah ada.”

Percakapan ini memang tidak persis di awal setelah tampilan rumah produksi dan segala pernak-pernik yang biasanya tersuguh di pembukaan. Ada adegan singkat tentang istri Daigo Kagemitsu yang tengah melahirkan dan melirik ke patung budha d ipojok ruangan. Sedangkan Daigo sendiri hanya diam dan menunggu di teras rumah sebelum akhirnya memutuskan pergi ke aula neraka di tengah hutan. Adegan pendek itu akan mendapat penjelasannya seturut alur cerita ke depannya.

Umumnya, cerita yang menggunakan unsur drama memakai plot maju-mundur saat mengeksplor kenangan tokoh-tokohnya. Tapi anime ini sangat sedikit menggunakannya. Bahkan saat menceritakan tokoh utamanya, anime ini murni menggunakan alur maju. Apa yang terjadi di masa lalu, juga tragedi yang menimpa para tokoh itu. Semuanya lewat dialog, baik antara Hyakkimaru dan Dororo, antara pendeta petualang, Daigo dan istrinya, melalui dialog antara tokoh-tokoh figuran: pengawal Tajomaru, teman ayahnya Dororo.

Alur berjalan mundur ketika bercerita tentang masa lalu Dororo dan ayah angkat Hyakkimaru, Jukai. Keduanya bercerita bagaimana mereka menderita karena sistem saat itu yang bergantung pada samurai. Jika fokus membedah dua masa lalu ini, barangkali akan sampai pada perdebatan panjang lebar tentang kemanusiaan, persamaan hak, hukum dan mungkin sistem negara. Dan saya ingin menghindarinya.

Pendek cerita, ayah Dororo adalah ketua kelompok yang memberontak terhadap sistem kekuasaan para samurai yang hanya menyebabkan peperangan dan penderitaan. Ia merampok orang-orang kaya dan para samurai hingga akhirnya ia dikhianati dan terbunuh.

Masa lalu Jukai juga berjalan di sekitar para samurai. Ia semula adalah bawahan samurai dan suatu ketika setelah memenangkan peperangan dan sedang mengumpulkan para tawanan, ia dipaksa memenggal beberapa orang. Ketika itu ia merasa sisi kemanusiaannya telah lenyap.

Baik alur mundur ke masa lalu Jukai ataupun Dororo, menurut saya menjadi sangat emosional. Sayangnya itu tidak bisa tersampaikan dengan potongan-potongan cerita.  Saya hanya bisa merekomendasikan pembaca agar menontonnya saja supaya turut merasakan suasana yang dibangun di dalam konflik.

Tujuh puluh persen anime ini hanya berputar pada perjalanan Hyakkimaru. Dororo banyak mendapat adegan namun itu pun untuk mendukung karakter Hyakkimaru. Berangkat dari sinilah, saya sempat mempertanyakan pemilihan judul anime ini: kenapa Dororo? Lalu saya memahaminya setelah tahu bahwa Dororo adalah hasil salah ucap dari kata dorobo yang artinya pencuri. Status yang cocok untuk karakter Dororo dalam anime ini, meski adegan mencurinya hanya ditunjukkan di episode awal. Mungkin status pencuri juga bisa sesuai dengan karakter lainnya. Misalnya, Daigo yang mencuri organ tubuh anaknya sendiri dengan perantara atau Hyakkimaru yang mencuri kemakmuran rakyat ketika membunuh para iblis.

Meski tema yang diangkat anime ini serius apalagi dengan scoring musik yang jarang-jarang, tapi tidak membuat jidat kita mengerut karena penyampaiannya tidak rumit. Kisahnya memang sedikit menyedihkan dan suram, namun alurnya bisa dicerna dan hubungan yang ingin dibangun sudah jelas dari awal. Apalagi eksplorasi masa lalu yang banyak disampaikan lewat dialog murni: apa sebabnya si Hyakimaru berpetualang, bagaimana sebenarnya hidup Dororo, rahasia apa yang disimpan di punggung Dororo dan seterusnya. Singkatnya, plot cerita ini banyak dibangun lewat dialog, dan tentu meringkasnya akan menghilangkan estetika cerita itu sendiri.

Yang bisa saya sampaikan, latar waktu dalam cerita ini mengalir dari awal cerita hingga akhir, terlepas dari adegan perjanjian dengan iblis. Latar itu sudah bisa kita temukan sejak pertama kali Hyakkimaru membunuh Iblis yang membuat satu organ tubuhnya kembali sampai ia mendapat organ terakhirnya setelah bertarung dengan adiknya sendiri, Tajomaru. Walaupun tidak jelas berapa minggu, bulan atau berapa tahun, si tokoh melakukan perjalanannya, tapi adegannya tidak berakhir di sana. Anime ini justru diakhiri dengan perdamaian konflik antara Hyakkimaru dan ayahnya di tengah aula neraka.

Sebelum Hyakkimaru mendapat organ terakhir, ada semacam kontradiktif yang menarik, yang menguras emosional tokoh dan penonton; Hyakkimaru berambisi untuk mendapatkan semua anggota tubuhnya karena ia merasa itu adalah haknya sebagai manusia. Tapi di sisi lain, ketika ia berhasil mendapat semua organnya, wilayah kekuasaan ayahnya akan sengsara dan Hyakkimaru harus membunuh manusia. Maka Dororo pun memintannya untuk berhenti mengejar ambisinya itu.

Saya, dan mungkin penonton yang lain, merasa dilema melihat adegan-adegan itu. Apakah Hyakkimaru harus memenuhi ambisinya untuk menjadi manusia yang utuh atau berkorban demi kemakmuran masyarakat?

Ketika sudah berhasil mendapatkan semua organ tubuhnya, dan menyadari ibu serta adiknya telah meninggal, Dororo merasa Hyakkimaru bertingkah aneh. Saat itu Dororo masih menunggu Hyakkimaru yang tak kunjung kembali. Kemudian adegan berganti ke Hyakimaru yang tiba di aula neraka dan mendapati ayahnya di tempat itu.

Si ayah frustasi karena tahu istri dan anaknya telah meninggal. Ia frustasi karena kalah dalam peperangan. Di saat yang sama, sang ayah juga frustasi karena pengorbanannya selama bertahun-tahun telah lenyap. Dan semua itu disebabkan oleh anaknya sendiri. Merasa sudah tidak ada harapan lagi, Daigo ingin mengorbankan sekalian apa yang tersisa di hidupnya. Ia ingin mengorbankan nyawanya sendiri untuk para iblis agar tanahnya kembali makmur sentosa.

Saat itu Hyakimaru sudah memahami tentang makna kemanusiaan setelah ia mau memaafkan ayahnya dan menghentikan ambisi balas dendamnya. Ia kemudian mengangkat pedang dan berjalan ke arah ayahnya, ia menancapkan pedang itu tepat di sebelahnya. Lalu, ia menaruh patung budha di depan ayahnya dan pergi setelah mengucapkan kata-kata perpisahan, “Aku memilih jalan ini. Jangan sampai kau menjadi iblis.”

Dengan akhir yang seperti ini, anime ini memang terkesan lumayan happy ending. Karena ayah dan anak ini tidak saling menumpahkan darah. Namun ujung seperti ini pun masih terasa getir dengan hawa kegetiran yang sama, persis seperti yang bisa ditemui diawal ceritanya.

 

 

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan