Cerita dan Catatan untuk Orang-Orang Awam

Bagikan konten:

Beberapa hari yang lalu, teman saya berkeluh kesah setelah pulang dari suatu acara. Dengan wajah yang tampak ngantuk ia berbicara sambil merebahkan tubuhnya, “Saya tidak paham dengan yang dibicarakan pembicaranya. Ia membedah hadis sampai muter-muter. Sedangkan soal hadis, saya paling cuma belajar Mustalah Hadis dan Arba’in Nawawi. Itu pun sepertinya sudah lupa.” Kemudian ia menambahi, bahwa ia hanya tidur di acara tersebut sebelum akhirnya pulang saat jeda acara.

Saya pernah mengalami hal yang serupa. Tapi saya tidak seberuntung teman saya yang memilih tidur lalu pulang. Ketika itu, saya mengikutinya sampai usai dan setelahnya baru merasa bahwa itu sia-sia.

Saya pikir Anda perlu berhati-hati terhadap hal semacam itu. Ketidaktahuan pada suatu hal adalah aspek naluriah, yang menjadi akar dalam diri manusia. Mungkin kita akhirnya mengetahui sesuatu dan memahaminya, tapi manusia tidak mungkin memahami setiap perkara. Dan terhadap hal-hal yang kita merasa awam, barangkali kita tak perlu menjadi sok tahu seperti kebanyakan orang zaman ini.

Saya beruntung pernah mendengar cerita tentang bagaimana mengatasi keawaman terhadap suatu hal. Orang-orang dewasa yang menceritakan itu kepada saya bertahun-tahun lalu. Mereka bilang, ketidaktahuan adalah sesuatu yang naluriah. Karena itu, ketika kita merasa bodoh, anggap saja sebagai kewajaran. Dan mereka menyarankan agar meminta perlindungan kepada Tuhan dari godaan setan yang terkutuk karena terkadang kebodohan bisa jadi ulah dari setan.

Saya pernah membaca tentang cerita-cerita semacam itu di buku-buku. Dahulu, di masa sahabat Nabi Saw. ada kelompok yang bernama Murjiah. Aliran Murjiah muncul ketika perdebatan antara Syiah, Khawarij dan kelompok Umawiyah sedang panas-panasnya. Dan mereka tidak tahu harus memihak yang mana. Murjiah memilih untuk tidak mengikuti pihak mana pun. Mereka bermaksud mengembalikan setiap persoalan kepada Tuhan, apalagi soal kepemimpinan dan kekuasaan yang saat itu terlihat begitu rumit.

Dalam suatu buku yang say abaca ada pernyataan tentang Murjiah. Saya akan menyusunnya kembali di sini. Murjiah adalah para sahabat Nabi Saw. yang baru saja berada di medan peperangan. Setelah usai, mereka kembali ke Madinah. Mereka tiba di Madinah tepat setelah peristiwa terbunuhnya Khalifah Usman ra.. Mereka terkejut lantaran sebelum pergi ke medan peperangan, masyarakat bersatu dan tidak terjadi pertentangan.

Dalam cerita itu ada kutipan pernyataan mereka tentang realita yang tidak bisa mereka pahami. Mungkin ketidakpahaman itu, bisa saya katakan sebagai ketidaktahuan, keawaman, atau mungkin kebodohan. Tapi kadang saya merasa tidak sopan untuk menyebutnya kebodohan, karena penggagas kelompok Murjiah itu adalah sahabat Nabi Saw.

Saya akan menyusun ulang pernyataan yang dikutip dalam cerita itu: “Kami meninggalkan kalian dalam persatuan dan kebersamaan dan tidak ada pertentangan. Lalu kami pulang dan kalian saling bertengkar. Sebagian kalian mengatakan pembunuhan Usman ra. itu sebuah kezaliman. Sebagian lain berkata bahwa Ali ra. adalah yang paling benar. Menurut kami, kalian semua benar dan bisa dipercaya. Kami tidak mengingkari dan melaknat kalian. Kami pun tidak bisa menjadi saksi kalian. Kami menyerahkan semua perkara kalian kepada Allah Swt. agar Dia yang menentukan hukum dalam urusan kalian.”

Barangkali apa yang terjadi pada orang-orang Murjiah itu serupa dengan kejadian teman saya. Meskipun dalam konteks yang sangat berbeda, tapi keduanya bertempat pada posisi yang sama: bertemu pada sesuatu yang tidak dipahami. Karena mereka adalah para sahabat Nabi, mereka menyikapinya dengan berserah diri pada Allah Swt., sedangkan teman saya yang bukan sahabat Nabi menyikapinya dengan berserah diri pada tidur.

Saya ingin menuliskan satu cerita lagi tentang sikap seseorang dalam menyikapi kebodohaannya sendiri. Ceritanya juga dari masa lalu, yang saya dapatkan ketika membaca buku Iljâm al-Awam ‘an Ilmi al-Kalâm karangan al-Ghazali.

Dulu banyak orang awam yang berbicara tentang penyerupaan, dan apa yang mereka katakan itu mengikuti pendapat kelompok Mujassimah. Mereka meyakini bahwa penyerupaan itu bisa digunakan dalam memahami konsep tentang Allah Swt. dan sifat-sifat-Nya seperti halnya penyerupaan tangan, kaki, proses turun dan berpindah. Pandangan itu mereka dapatkan dari memahami nas-nas agama secara saklek dan meyakini bahwa itu sesuai dengan keyakinan ulama salaf.

Berawal dari cerita itu, kemudian al-Ghazali menulis buku kecilnya itu. Ia ingin menjelaskan dan meluruskan kesalahpahaman orang awam itu tentang penyerupaan dan pandangan ulama salaf. Tapi saya tidak akan menuliskan penjelasan-penjelasan itu di sini. Saya hanya akan menukil konsep awal lalu berusaha memaknainya. Konsep itu tentang orang-orang awam dan bagaimana seharusnya menyikapi mereka. Agar menjadi jelas, saya akan menukil pernyataan al-Ghazali:

“Apabila sampai suatu hadis yang mutasyâbihât kepada orang awam (kaum muslimin yang awam), maka wajib bagi mereka  berpegang dengan tujuh perkara: taqdîs (menyucikan Allah Swt.), tasdîq (membenarkan apa yang disampaikan oleh Allah Swt.), mengakui kelemahan (dalam memahami nas-nas mutasyâbihât tersebut), berdiam diri (tidak mendalami permasalahan tersebut), tidak berbicara tentang masalah tersebut, kemudian tidak merenungkan dan berfikir tentang makna perkataan tersebut, lalu menyerahkan perkara tersebut kepada ahli makrifat.”

Menurut saya, tindakan-tindakan itu bisa dilakukan secara bertahap -dari taqdîs kemudian tasdîq dan seterusnya- atau mungkin bisa dilakukan secara acak. Dalam soal Murjiah misalnya, mereka telah melakukan taqdîs. Namun sebelum itu, tentu mereka telah mengakui kelemahan mereka dalam memahami persoalan.

Beberapa sikap yang ditawarkan al-Ghazali itu juga telah dilakukan oleh teman saya. Padahal teman saya sepertinya belum pernah membaca bukunya. Saya mengetahuinya karena saya sempat bertanya kepadanya, meskipun teman saya tidak mengawali dengan sikap taqdîs. Tapi ia sudah pada tahap tasdîq, minimal ia yakin bahwa ia benar-benar tidak paham soal pembicaraan dalam acara yang diikutinya. Secara tidak sadar, teman saya juga mengakui kelemahan, lalu ia berdiam diri, tidak ikut-ikut berbicara dan menyerahkan kepada ahlinya lalu kemudian tidur.

Saya jadi mulai berpikir bahwa apa yang ditawarkan oleh al-Ghazali itu, bisa saja merupakan tindakan naluriah yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Atau mungkin teman saya itu punya cara berpikir yang identik dengan al-Ghazali? Tapi saya rasa tidak, apalagi kalau saya melihat kesehariannya yang demen bermain Mobile Legend.

Melihat fenomena menjamurnya orang-orang sok tahu di zaman sekarang, saya kira kita membutuhkan sosok seperti al-Ghazali atau orang-orang yang membaca bukunya agar tidak menjadi orang tidak sok tahu ketika memahami duduk perkara. Pesan terakhir saya, jika Anda menghadapi sebuah persoalan dan anda tidak kunjung memahaminya, anda bisa meniru sikap para sahabat Nabi Saw., atau meniru teman saya yang memilih untuk tidur saja.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan