Bukan Tutorial Menulis Novel

Bagikan konten:

Hampir semua orang bisa bercerita, tapi tidak semua orang bisa menuliskannya menjadi sebuah kisah. Bercerita adalah salah satu ciri yang membedakan manusia dari ras makhluk lainnya. Bercerita adalah salah satu bentuk komunikasi yang sudah mengalir dalam diri manusia karena manusia sejatinya adalah seekor binatang yang suka bercerita. Seseorang bisa bercerita tentang apapun secara spontan tanpa harus memikirkan bagaimana sebaiknya cerita itu disampaikan, bagian apa yang harus ia ceritakan terlebih dahulu dan bagian mana yang perlu dihapus. Cerita hanya membutuhkan materi dan pendengar. Sedangkan kisah menuntut sesuatu yang lebih, sesuatu untuk menggapai apa yang disebut-sebut dengan keindahan.

Kisah dalam perkembangannya menemukan bentuknya yang matang dalam apa yang disebut dengan novel ataupun cerita pendek. Jika Abdussalam al-Jumhi pernah mengatakan bahwa puisi adalah shinâ’ah yang hanya dipahami oleh ahlinya, maka novel/cerpen pun demikian (selanjutnya penulis hanya akan menyebutkan novel saja). Novel adalah shinâ’ah karena dalam menulis novel kita membutuhkan teknik dan perangkat kreatif.

Saya tidak akan berbicara tentang bagaimana seharusnya novel ditulis. Bahkan mengucapkannya saja sudah membuat saya malu sendiri. Mungkin karena sampai sekarang saya belum pernah merasa berhasil menulis novel. Meski begitu saya tetap meyakini bahwa menulis novel adalah sebuah pengalaman tak terulang; sebuah ide datang ke dalam kepala pengarang, lalu sisanya diserahkan kepada intuisi.

Namun intuisi tak menutup semua tabir gaib, ada celah di sana yang memberikan kita kesempatan untuk mengintip apa saja yang dilakukan seorang pengarang ketika ia menulis kisahnya. Melalui celah itu pula, kita mendengar beberapa pengarang mengatakan sendiri kepada kita tentang proses yang dilaluinya dalam menulis kisahnya. Seperti yang dilakukan oleh Umberto Eco di akhir novelnya The Name of The Rose. Ternyata intuisi tak datang begitu saja. Ia merupakan akumulasi dari semua pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pengarang. Ketika sebuah ide mendatangi Umberto Eco, ia tahu bahwa ia memiliki sebuah ide yang dapat dikembangkan dan ia tahu bahwa ia memiliki hasrat yang besar untuk menuliskannya. Ide itu membawanya untuk membaca dan membaca lagi, membuka kembali tulisan-tulisan atau arsip-arsip lamanya tentang abad pertengahan karena ia sudah memilih era itu sebagai latar untuk kisahnya.

Hal pertama yang dilakukan seorang pengarang sebelum menulis kisahnya adalah membangun sebuah dunia yang bisa diisi dengan banyak hal, dari hal-hal kecil hingga hal-hal yang rumit. Ia merancang dunia imajinasinya dan ia harus tahu dan paham betul tentang seluk beluk dunia itu; siapa saja tokoh yang hidup di dalamnya, apa saja yang ada di sana, walaupun ia tak harus mengenalkannya pada pembaca. Tokoh-tokoh dalam novel adalah manusia seperti halnya diri kita. Manusia menempati sebuah tempat dan waktu, ia bersinggungan dengan dunia luar yang membentuk pola berpikir, cara pandang, sifat dan wataknya. Dari sini, seorang pengarang memerlukan pertimbangan logika dalam membentuk karakter tokohnya. Tidak mungkin, misalnya, pengarang memilih tokohnya hidup di abad pertengahan tapi ia membiarkan tokohnya berbicara tentang internet, Twitter dan follower Instragram.

Umberto Eco menghabiskan tahun pertama menggarap novelnya itu dengan membangun dunia tersebut. Karena ia akan menempatkan peristiwa dalam kisahnya di sebuah biara abad pertengahan, maka ia melakukan penelitian arsitektur untuk menetapkan tata letak biara itu, jarak-jaraknya, bahkan jumlah anak tangga dalam sebuah tangga melingkar. Siapapun yang membaca The Name of The Rose bisa merasakan sendiri bagaimana dunia kosmologis dalam kisah tersebut diciptakan dengan perhitungan yang begitu matang.

Setelah dunia tersebut dirancang, pengarang tahu apa yang harus dilakukannya. Dunia itu seperti halnya sebuah bagan atau kerangka dasar yang menuntun sekaligus membatasi gerak pengarang. Dari bagan itu, ide-ide baru bermunculan. Terkadang seorang pengarang tidak mampu menahan emosinya, dan memperdengarkan suaranya secara terang-terangan kepada pembacanya. Pengarang muncul dari balik panggung dan mengungkapkan hal-hal yang selama ini meresahkannya. Persis yang dilakukan oleh Thaha Husein di beberapa kisahnya.

Ketika bercerita tentang Qasim di al-Mu’dzdzabûna fi al-Ardli, Thaha Husein gagal menahan emosinya. Setelah narator menggambarkan Qasim, si nelayan ikan miskin, yang tak juga kembali dari sungai setelah jiwanya diguncang oleh kenyataan bahwa putri semata wayangnya berselingkuh dengan suami adik kandungnya yang sudah tua dan sakit-sakitan, Thaha Husein memperlihatkan dirinya dan mengutarakan petuah-petuah moral dengan panjang lebar.

Saya tak bertujuan untuk menghakimi kisah Thaha Husein di sini. Bukan karena saya mengaguminya, tapi karena saya tahu bahwa kisah itu ditulis di sebuah masa di mana teknik kepenulisan cerita belum berkembang sedemikian rupa seperti yang ditemukan Naguib Mahfouz atau Ihsan Abdel Quddous di masa mereka.

Seperti yang dikatakan oleh Umberto Eco sendiri, sebuah novel yang hebat adalah novel yang pengarangnya tahu kapan ia harus ngebut, kapan ia harus menginjak rem dan kapan ia harus berhenti mendadak untuk memberikan efek kejut pada pembaca dengan tetap mengikuti sebuah ritma ajek yang telah dipilihnya sejak awal. Seperti halnya puisi, novel memiliki ritma yang menuntut pengarang untuk membuat kompisisi yang pas antara durasi adegan dan durasi kepenulisan (deskripsi).

Tidak semua adegan bisa dituliskan dalam tempo yang cepat. Seperti halnya ketika Youssef Ziedan membutuhkan tempo yang lambat di bagian bab kedua dalam novel Azazil. Yaitu ketika ia harus menjelaskan bagaimana tokohnya Hypa, seorang pendeta Mesir, memasuki Yerusalem bersama rombongan haji hingga akhirnya ia menetap di sebuah biara kuno, dan bagaimana ia akhirnya mendengar nama Nastorius, pemimpin mazhab Nestorianisme dalam ajaran Kristen, dan bagaimana terjalin hubungan persahabatan antara keduanya. Sebaliknya, tak mungkin Ihsan Abdel Quddous memilih tempo lambat untuk menuliskan kumcernya yang berjudul Lan Ta’ûd Ayyâm Zamân karena ia tak bertujuan untuk mendeskripsikan emosi dan pernak-pernik waktu serta tempat. Ia hanya menawarkan sebuah ide yang kritis, sebuah kelakar yang sarkas. Dan di situlah, ia mencoba mengusik emosi dan jiwa pembaca.

Satu hal yang sangat penting berkaitan dengan teknik kepenulisan novel adalah plot. Unsur ini disebut-sebut memiliki fungsi teknis yang luhur karena plotlah yang menjadikan novel bukan sekedar kisah yang diceritakan dalam deretan waktu yang runut. Melalui plot, pengarang mencoba untuk bermain-main dengan rasa penasaran, ingatan dan daya intelegensi pembaca. Pengarang memulai kisahnya dari pertengahan peristiwa, membiarkan pembacanya terjebak di antara masa lalu para tokoh yang tak diketahuinya dan masa depan para tokoh yang berusaha ditebak olehnya. Plot membawa pembaca memasuki dunia yang penuh misteri dengan berbagai kejutannya. Dapat dikatakan bahwa misteri dan efek kejut adalah esensi dari plot itu sendiri. Plot yang baik adalah plot yang mampu memainkan emosi pembaca sedemikian rupa, namun pembaca tak pernah mampu memrediksi peristiwa apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pengarang tahu bahwa ia menuliskan kisah untuk pembaca, entah itu adalah pembaca empirik maupun pembaca fantasi. Selalu ada pembaca di sana, entah penulis berusaha bersikap naif dengan mengatakan bahwa ia ingin menulis untuk dirinya sendiri dan tak memedulikan pembaca. Tapi bukan berarti pengarang harus tunduk kepada selera pembaca dan menyuguhkan hal yang memang diinginkan pembaca.

“Pengarang yang berhasil adalah pengarang yang berhasil mencetak dan mengonstruksi pembacanya,” terang Umberto Eco. Novel yang diramu dengan formula siap-jadi adalah novel yang tak memberikan apa-apa. Pengarang adalah seorang yang berani untuk memberikan suatu hal yang baru, sesuatu yang sering dilihat oleh pembaca tapi tak disadarinya, atau sesuatu yang benar-benar baru.

Dalam The Art of Novel, Milan Kundera mengatakan bahwa novel adalah tentang mencipta kemungkinan-kemungkinan. Mungkin, melalui kemungkinan-kemungkinan itulah, kita mencari jawaban eksistensialis mengenai diri kita di dalam novel. Mungkin, karena itulah, kita membaca novel-novel.

 

Facebook Comments
Bagikan konten: