Bertemu Anwar Bahjat

Bagikan konten:

“Menurutku perang dunia tiga akan terjadi dalam waktu dekat.” Tak lama kemudian, ia menambahi. “Maksudku, Iran dan Amerika.”

Lelaki yang berdiri di sampingnya menggeleng tidak setuju, namun ia tak langsung menjelaskan pendapatnya. Lelaki itu justru menggerutui pintu lift yang tak kunjung terbuka. “Aku sudah bilang lift ini memang bermasalah,” ucapnya kesal.

Ia tak heran jika temannya kesal. Mereka memang telah menunggu selama lebih dari sepuluh menit di depan lift yang terlihat tak berfungsi. Jika tempat tujuan mereka tidak berada di lantai sepuluh, ia pasti sudah mengusulkan untuk menggunakan tangga.

Tak lama kemudian terdengar suara mesin ngadat dan setelah itu pintu lift terbuka. Mereka berdua pun segera memasuki lift. Setelah memencet angka sepuluh, temannya itu berkata, “Kau tadi bilang apa? Amerika dan Iran akan berperang dalam waktu dekat? Amerika hanya menggertak. Donald Trump tidak akan berani melakukannya. Iran menguasai teluk Hormuz dan mereka mempunyai Khamenei yang mampu membaca titah langit. Lagipula sebelum pasukan Amerika sampai ke dataran musuh, Iran sudah terlebih dahulu menghancurkan mereka dengan nuklir.”

“Bagaimana dengan embargo dan pengucilan dunia Internasional terhadap Iran?”

Lelaki itu tertawa lirih sembari menepuk-nepuk pundaknya, “Sufyan, kau harus membaca sejarah negara Iran. Jika kau sudah membacanya, berarti kau perlu membacanya ulang.”

Sufyan tidak kesal dengan sikap temannya yang memang suka berlagak sok pintar dan memandang lawan bicaranya tak mengerti apa-apa. Lebih tepatnya, Sufyan sudah tidak lagi merasa kesal. Sufyan sudah mengenalnya sejak mereka duduk di bangku S1 al-Azhar jurusan Bahasa Arab. Awalnya Sufyan mengira bahwa temannya itu adalah jenis mahasiswa Mesir yang tidak peduli dengan pelajar asing sepertinya, yang kesal menyimak pelajar asing terbata-bata bertanya dengan bahasa Arab tentang materi kuliah yang disampaikan dosen. Ternyata temannya itu justru suka mendekati para pelajar asing, menerangkan ulang materi pelajaran dengan menggebu-gebu entah ditanya atau tidak. Tapi bagaimanapun, Sufyan harus mengakui bahwa temannya itu memang berotak pintar.

Mereka berdua menjadi cukup dekat setelah Sufyan membawa novel Aulâd Hâratinâ ke dalam kelas. Saat itu Sufyan belum tahu jika novel yang dibawanya adalah jenis novel yang dikutuk sebagian warga Mesir. Ia hanya ingin mencoba membaca karya Naguib Mahfouz yang namanya sudah ia dengar sejak duduk di bangku aliyah. Dengan wajah tak percaya, temannya itu mendekati Sufyan yang tengah membaca novel bersampul biru itu di pojokan kelas.

“Kenapa kau membaca Aulâd Hâratinâ?”

 “Entahlah, aku hanya ingin membacanya.”

“Apa kau suka dengan ceritanya?”

“Cukup menarik. Aku jadi teringat dengan kisah-kisah Nabi.”

“Gara-gara novel ini, Mahfouz nyaris mati dibunuh oleh dua pemuda tak dikenal. Mereka bodoh dan tidak paham dengan sastra. Aku merasa senang karena masih ada yang mau membaca novel ini.”

Mereka berdua sudah sampai di lantai sepuluh tapi pintu lift tak langsung terbuka. Tanpa harus diperjelas, mereka berdua sudah mafhum bahwa mereka perlu menunggu hingga sepuluh menitan sampai pintu lift terbuka. Terdengar suara seorang pria yang sedang berteriak-teriak marah entah kepada siapa dari luar lift.

“Kau yakin kali ini kita akan bertemu dengannya?” Tanya Sufyan.

“Tentu saja. Kenapa? Apa kau meragukanku?”

Sufyan tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala lemah. Tiba-tiba Sufyan mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia menyesal mengapa ia mau menerima tawaran temannya itu untuk menemui penyair Mesir, Anwar Bahjat. Ketika mereka berdua bertemu dengan tidak sengaja di kampus putra al-Azhar setelah tiga tahun lamanya, ia bercerita kepada temannya bahwa ia tengah menulis tesis tentang Anwar Bahjat. Saat itu temannya sedang mengurus berkas kuliah milik saudaranya, sedangkan Sufyan mengurus ijazah S1 yang sudah lama ia biarkan terbengkalai. Ia tidak jadi melanjutkan program S2-nya di al-Azhar karena masalah adimistrasi saat mendaftar. Ia pun akhirnya memilih Universitas Liga Arab dan mengambil jurusan Sastra.

Semenjak pertemuan itu, mereka sering berkomunikasi melalui via Messenger Facebook, membicarakan banyak hal seperti sampah di Mesir, lalu lintas yang amburadul, bagaimana temannya bisa melanjutkan s2 di Universitas Kairo lalu magang di Al-Ahram, dan rencana menikah. Walaupun tak seekstrim temannya yang mendaku tidak tertarik menikah, namun mereka berdua sama-sama memandang bahwa cinta adalah hubungan yang rumit, yang menuntut timbal balik semacam take and give, dan mereka bukanlah jenis lelaki yang pandai ‘memberi’. Suatu hari, temannya mengatakan bahwa Anwar Bahjat akan mengunjungi gedung Al-Ahram tempatnya magang, untuk diwawancarai. Ia bisa membantu Sufyan untuk bertemu langsung dengan penyair kondang yang namanya disebut-sebut sebagai penerus Ahmad Syauqi dan puisi-puisinya di muat di koran Sastra Mesir yang terbit seminggu sekali

“Bagaimana caranya?” Tanya Sufyan.

“Kau akan berpura-pura menjadi bahan penelitian tesisku tentang pelajar asing yang belajar bahasa Arab. Seniorku pernah mengajak seorang pelajar asing ke Al-Ahram dengan alasan semacam itu.”

“Bukankah tesismu membahas tentang usaha negara memberantas ekstrimisme dan terorisme?”

“Tidak ada yang tahu.”

Walaupun sempat ragu, Sufyan akhirnya mengiyakan tawaran temannya setelah ia berpikir belum banyak yang menuliskan kajian tentang biografi atau puisi-puisi Anwar Bahjat. Walaupun namanya sudah terkenal, namun Anwar Bahjat masih hidup dan para penulis lebih tertarik menuliskan orang-orang yang sudah mati. Sufyan gugup ketika pertama kali ia menunjukkan kartu pelajarnya kepada sekuriti sebelum diperbolehkan memasuki Al-Ahram. Meski sudah tiga kali keluar masuk gedung Al-Ahram, Sufyan masih sering membayangkan siasat mereka akan ketahuan oleh sekuriti bertubuh tambun itu. Tapi bayangan itu hanya ada dalam kepalanya dan tak pernah menjadi kenyataan.  

Ini adalah keempat kalinya ia memasuki gedung Al-Ahram dan ia mulai putus asa karena usaha untuk bertemu Anwar Bahjat selalu saja gagal. Pertama kali, Anwar Bahjat mendadak ada urusan sehingga ia tidak jadi diwawancarai pada hari itu. Kedua kali, terlalu banyak wartawan sehingga Sufyan dan temannya tidak memiliki kesempatan untuk bertemu secara pribadi. Dan ketiga kali, Ahmad tidak ingat letak ruangan wawancara Anwar Bahjat. Mereka harus berputar-putar dan baru berhasil menemukan ruangan wawancara setelah Anwar Bahjat pergi meninggalkan gedung Al-Ahram.

Pintu lift akhirnya terbuka setelah terdengar suara seperti mesin ngadat. Pria yang tadi masih saja berteriak-teriak. Ia tengah berbicara dengan seorang dari handphone dengan kedua mata yang melotot. Tangan kanannya yang tidak memegang tubuh handphone bergerak-gerak, menjelaskan sesuatu kepada lawan bicaranya yang sepertinya tak kunjung mengerti.

“Hai Ahmad, bagaimana kabarmu?” sapa pria itu ketika melihat Ahmad dan Sufyan. Mendadak nada suaranya yang keras menjadi lembut.  

“Alhamdulillah. Bagaimana kabarmu, Mustafa? Lift ini benar-benar harus segera diperbaiki.”

“Aku juga sudah kesal. Tapi siapa yang mau bekerja di hari libur seperti ini?”

Tanpa ditanya, Ahmad sudah menjelaskan sendiri kepada Sufyan bahwa Mustafa adalah editor untuk kolom budaya di koran Al-Ahram. Ia bahkan menerangkan tentang libur di hari Jumat dan Sabtu yang sudah diketahui Sufyan. Lantai sepuluh terlihat lebih sepi dan beberapa ruangan terkunci. Sufyan bisa mendengar dengan jelas suara langkah kaki mereka dan itu membuatnya mendadak gugup. Seperti yang dikatakan Ahmad, Anwar Bahjat tengah berada di ruangan direktur bagian berita Arab setelah wawancaranya usai. Sufyan lupa siapa nama direktur itu.

“Darimana kau mendapatkan semua informasi tentang Anwar Bahjat?” tanya Sufyan.

“Harusnya kau menanyakannya sejak awal, Sufyan.” Ahmad memperlihatkan senyum khas sarkasnya yang sudah tidak lagi membuat Sufyan kesal.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu yang terlihat mewah. Samar-samar terdengar suara orang yang sedang bercakap-cakap dari dalam. Sufyan bisa merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Ia baru menyadari Ahmad juga terlihat gugup seperti dirinya. Jidatnya berkeringat dan ia menarik nafas cukup dalam. Terlihat jelas sekali ia sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ketika menyadari bahwa Sufyan tengah memandanginya dengan heran, Ahmad menjadi salah tingkah.

“Kau siap untuk bertemu dengan Anwar Bahjat?” tanya Ahmad.

Sufyan mengangguk. Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepalanya, namun ia belum sempat mengatakannya karena Ahmad sudah terlebih dahulu mengetuk pintu dan tak lama kemudian seorang pria berkepala botak membukakan pintu.

“Saya Ahmad dan ini temanku Sufyan. Kami ingin bertemu dengan Anwar Bahjat.”

“Aku sering melihatmu. Kau magang di sini kan?”

Ahmad mengangguk sembari tersenyum. Sufyan ikut tersenyum ketika tiba-tiba pria botak itu melihat ke arahnya.

“Aku belum pernah melihatmu,” ucap pria itu sembari menyipitkan kedua matanya.

“Dia memang tidak bekerja di sini. Saya sedang meneliti pelajar asing yang belajar bahasa Arab untuk tesisiku. Kebetulan ia juga sedang mengerjakan tesis tentang Anwar Bahjat,” terang Ahmad. “Karenanya dia sangat ingin bertemu dengan Anwar Bahjat.”

Pria botak itu mengangguk-angguk. Ia tak perlu mengulangi penjelasan Ahmad, karena Anwar Bahjat yang berada di dalam ruangan sudah bisa mendengar sendiri suara Ahmad. Sepertinya penyair itu merasa tidak keberatan sehingga pria botak itu menyilahkan mereka berdua untuk masuk.

Sejuk dan harum. Itulah yang dirasakan Sufyan ketika dirinya telah berada di dalam ruangan. Di dalam ruangan itu hanya ada tiga orang: pria botak yang tadi membukakan pintu, pria berbadan tambun yang duduk di belakang meja dengan papan keterangan yang bertuliskan direktur, dan pria kurus yang duduk di hadapan si pria tambun. Pria botak meminta mereka berdua untuk duduk di kursi sofa berwarna hijau yang menempel di dinding di pojok ruangan. Pria botak itu duduk bersama mereka di sofa.

“Kau dari Malaysia?” tanya si pria tambun dari belakang mejanya.

“Tidak. Saya dari Indonesia,” jawab Sufyan.

“Aku suka negara Indonesia. Aku pernah ke Jakarta,” ucap si pria tambun lagi.

“Jadi kamu sedang menulis tesis tentang Anwar Bahjat?” tanya pria kurus. Tangan kanannya terlihat sedang menggilir biji tasbih.

Sufyan mengangguk penuh percaya diri.  

“Kenapa kau memilih Anwar Bahjat?” tanyanya lagi.

“Saya selalu membaca puisi-puisi Anda di Koran Sastra. Puisi-puisi Anda lembut, dalam tapi tak sulit untuk dipahami. Saya sangat suka dengan puisi Anda yang berjudul Di Dalam Gerbong Metro.

“Kau tahu aku Anwar Bahjat?”

“Saya mengikuti Anda di Facebook.”

Semua orang di dalam ruangan tertawa termasuk Anwar Bahjat yang tangannya tak henti-henti menggilir biji tasbih. Suasana mulai mengalir. Sufyan sangat bersemangat menanyakan beberapa pertanyaan yang memang sudah ia persiapakan jauh-jauh hari sehingga ia tidak terlalu memperhatikan Ahmad yang duduk di sampingnya. Ia merasa bahwa di dalam ruangan itu hanya ada dirinya dan Anwar Bahjat semata.

 “Mengapa Anda tindak pernah menulis puisi tentang perempuan dan percintaan?”

“Aku menulis puisi semacam itu tapi untuk diriku sendiri. Puisi yang sebenarnya adalah puisi yang mengagungkan dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan keluhuran. Nilai-nilai inilah yang menjadikan puisi itu abadi, yang dipuji oleh Rasulullah.”

“Menurut Anda, bekal apa yang harus dimiliki oleh seorang penyair?”

“Iman kepada Tuhan. Karena tanpa iman, seseorang hanya akan menggubah puisi-puisi setan, yang mengembara di setiap lembah dan mengatakan apa yang tidak dikerjakannya sendiri.”

“Walaupun tak ada kaitannya dengan puisi Anda, saya penasaran bagaimana pendapat Anda tentang pemberitaan bahwa Anda dianggap mendukung kelompok teroris di Utara Sinai?”

Anwar Bahjat tertawa lirih. “Aku menjadi penyair karena aku meyakini kebenaran. Dan prinsip dalam hidupku, jangan pernah takut membela kebenaran. Jurnalistik di zaman sekarang suka memberitakan berita setengah-setengah. Karenanya aku bersyukur masih ada insan jurnalis seperti Rifaat Iwadh ini.” Ia menunjuk ke arah pria tambun yang terlihat tersipu dengan pujiannya.

Sufyan menyudahi pertanyaannya setelah melihat si pria tambun berkali-kali melihat ke arah jam tangannya seakan memberi isyarat bahwa ia sudah terlalu lama duduk di dalam ruangan ber-ACnya. Tak terasa Sufyan memang sudah duduk di sana, mengobrol dengan Anwar Bahjat selama hampir satu jam. Sebelum keluar ruangan, Sufyan sempat meminta foto bersama Anwar Bahjat sembari berkali-kali mengucap terima kasih.

“Aku tak habis pikir bagaimana pria dengan cara berpikir seperti itu bisa menjadi penyair terkenal yang dielu-elukan?” ungkap Ahmad ketika mereka tengah menunggu pintu lift terbuka.

Sufyan baru menyadari bahwa selama di dalam ruangan Ahmad hanya diam. “Setidaknya dia sudah menuliskan puisi, tidak seperti kau yang hanya pandai berkomentar.”

Sufyan menghentikan tawanya setelah menyadari bahwa Ahmad tidak tertawa dengan gurauannya. Tiba-tiba Sufyan menjadi canggung. Dan tak lama kemudian terdengar suara seperti mesin ngadat.

Setelah pertemuannya dengan Anwar Bahjat, Sufyan tidak lagi mengunjungi gedung Al-Ahram dan ia menjadi jarang berkomunikasi dengan Ahmad. Ia sedang fokus mengerjakan tesisnya. Ia sedang begitu bersemangat. Ia bisa duduk seharian membaca puisi-puisi Anwar Bahjat kemudian mengetikkan ide yang didapatnya di laptop. Sufyan benar-benar tidak teringat Ahmad hingga ia mendengar berita kematian Anwar Bahjat sebulan kemudian dari beranda Facebook.

Sufyan langsung teringat Ahmad dan langsung mengiriminya sebuah pesan di Messenger.

Kau sudah dengar berita kematian Anwar Bahjat?

Tidak lama berselang, Ahmad menjawab:

Aku sudah dengar. Dia sudah tua. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.

Sufyan teringat kembali kepada pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Ahmad sebelumnya. Ia sempat ragu sehingga ia menghapus kembali apa yang sudah diketiknya. Ia mengetik kembali kemudian menghapusnya lagi. Setelah mengambil nafas, ia akhirnya mengetik ulang dan langsung menekan tombol kirim.

Mengapa kau mau menemaniku bertemu dengan Anwar Bahjat?

Ahmad membalas:

Harusnya kau menanyakannya sejak awal, Sufyan.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan