Benar Saja, Badai Pasti Berlalu

Bagikan konten:

“Tenang, di balik semua kesulitan pasti ada kebahagian. Badai pasti berlalu,” kalimat yang akrab di telinga dan sering digunakan untuk menghibur orang. Padahal istilah tersebut semakin populer gara-gara Chrisye. Maka sebagai pengagum berat mendiang, saya ingin bercerita lebih tentangnya. Apalagi karena salah satu lagu favorit, Badai Pasti Berlalu, telah mengantarkan sosok keturunan Tionghoa ini sebagai salah satu musisi terbaik dunia. Saya semakin terkejut saat menyadari motif awal pembuatan lagu diilhami novel karya Marga T. dengan judul yang sama, betapa erat kaitan lirik lagu dengan cerita yang dialami tokoh utama dalam cerita.

Lagu ini ditulis oleh Eros Djarot pada tahun 1977. Dibuat pertama kali sebagai musik latar dengan film bertajuk sama, Badai Pasti Berlalu, semula dinyanyikan oleh Berlian Hutauruk, tapi Teguh Karya selaku sutradara menyindir suara Hutauruk seperti lengking tawa Kuntilanak. Dia malah menyarankan sebaiknya lagu ini dinyanyikan oleh vokalis lain, Teguh mengajukan sebuah nama: Anna Mathovani. Eros Djarot tidak terima. Dia bahkan mengancam akan menarik lagu ini dari film.

Seandainya Eros Djarot ikut mengindahkan usulan Teguh Karya saat itu, mungkin gelar lagu Indonesia terbaik ketiga ini bisa naik menempati peringkat teratas. Suara soprano Berlian dianggap kurang merdu. Majalah Rolling Stone Indonesia mengkritik semua vokalis lagu Badai Pasti Berlalu terlalu macho, padahal berkaca dari film sebagai motif asli pembuatan lagu, lagu tersebut seharusnya menceritakan tentang perjuangan seorang wanita malang yang dihujami penderitaan bertubi-tubi. Jadi jika Chrisye dan Ari Lasso yang menyanyikan, apakah kritikan Rolling Stones Indonesia masih berlaku? Seluruh vokalis lagu Badai Pasti Berlalu adalah pria kecuali Berlian. Tapi mereka semua memiliki satu persamaan, mereka sangat menghayati lirik yang diciptakan Eros Djarot dan berhasil membuat bulu kuduk para pendengar merinding, saking suksesnya membawakan nuansa tragis dan misterius yang terkandung dalam lirik lagu. Tidak jadi soal apakah lagu tersebut dinyanyikan seorang wanita atau pria, posisi Chrisye dan Ari Lasso sama: keduanya hanya mengkover lagu. Dan berapa banyak lagu yang seharusnya dinyanyikan oleh seorang wanita tapi dikover oleh pria dengan warna vokal yang berbeda tapi tetap menyiratkan nuansa yang sama?

Jawaban dari pertanyaan di atas bisa terungkap setelah mempreteli satu demi satu setiap simbol yang terdapat pada lirik lagu. Liriknya sendiri tidak terlalu istimewa, Eros Djarot mengakui itu. Tapi aransemen musik dan warna suara vokalis yang menentukan faktor suksesnya lagu ini. Jika kita cermati lebih jauh, lirik lagu ini juga klise dan memiliki beberapa kejanggalan. Kita mulai dari baris pertama:

Awan hitam / di hati yang sedang gelisah

Awan hitam pastilah identik dengan kesuraman. Kita sering mendapati tokoh-tokoh kartun dengan anekdot awan hitam di atas kepalanya sebagai tanda bahwa dia sedang dilanda kesukaran. Jika awan hitam digabung dengan hati yang gelisah, tentu penyusunan diksi seperti ini terlalu gamblang untuk disebut puitis. Meski sekiranya  di benak Eros, lagu ini diciptakan agar orang awam mudah mengerti. Hadirnya awan hitam sebagai simbol ditambah kalimat hati yang gelisah akan semakin memudahkan imajinasi pendengar akan suramnya kehidupan si Aku.

Daun-daun berguguran / satu-satu jatuh ke pangkuan

Imajinasi yang pertama kali muncul setelah membaca kalimat di atas tentu menggambarkan bagaimana si Aku sedang duduk di bawah sebuah pohon yang lebat sedang hatinya bagai guruh yang berkecamuk, dan seperti ingin menambah kesan syahdu kesedihan yang dialami si Aku, daun-daun pohon turut gugur satu-persatu. Fenomena ini hanya bisa ditemukan dalam musim gugur atau musim dingin. Hal ini bakal menambah rancu latar waktu kapan terjadinya musibah yang menimpa si Aku jika kita tidak berhati-hati dalam memerhatikan lirik berikutnya:

Kutenggelam sudah ke dalam dekapan / semusim yang lalu sebelum ku mencapai/ langkahku yang jauh

Bisa dibilang kalimat ‘kutenggelam dalam dekapan’ mengibaratkan perasaan seseorang yang semakin terpuruk dalam kesedihan, tetapi kata ‘dekapan’ di atas sedikit janggal. Jika dekapan itu milik si Aku, maka kalimat tadi bisa menggambarkan reaksi seorang wanita yang duduk ringkuh sambil memeluk kedua lututnya dan nangis tersedu-sedu. Tapi jika dekapan yang dimaksud adalah milik orang lain, maka saat itu si Aku sedang dihibur oleh seseorang, dan seharusnya kata dekapan di sini berganti menjadi ‘dekapmu’ atau ‘dekapnya’ untuk menghindari ambiguitas.

Lirik di atas juga menggambarkan latar waktu kapan si Aku tertimpa musibah. Kata musim bisa diartikan secara literal sebagai salah satu dari empat musim yang kita kenal sekarang: musim semi, panas, gugur dan dingin. Musim di sini juga bisa merujuk ke suatu masa tertentu yang terkenal akan suatu peristiwa, misal: musim begal, musim kawin, dsb. Jika kita menafsiri kata musim di atas sebagai musim gugur atau musim dingin, maka peristiwa ini sedang berlangsung pada musim gugur, satu musim sebelum musim dingin karena penulis menjelaskannya sebagai ‘semusim yang lalu sebelum ku mencapai langkah yang jauh’. Langkah yang jauh merupakan simbol dari pencapaian seseorang terhadap visinya, dan ijinkan saya mengutip ucapan masyhur Thomas Wayne dari film Batman Begins, langkah jauh bisa dimaknai sebagai simbol seseorang yang mencoba bangkit setelah jatuh dalam jurang nelangsa. Dalam kasus ini, dua makna itu cukup relevan. Pendengar bisa mengambil salah satu dari tafsiran di atas atau menggunakan keduanya sekaligus.

Sepertinya Eros Djarot sengaja menyamarkan kata dekapan dan musim di atas agar para pendengar bebas menafsirkannya. Jika tokoh si Aku diibaratkan sebagai Siska, tokoh utama dalam film Badai Pasti Berlalu, semua pertanyaan bisa terjawab. Siska adalah tipikal wanita biasa yang ditinggal nikah tunangannya setelah tahu bahwa calon suaminya telah menghamili sahabatnya sendiri. Lantas muncul Leo sebagai sahabat dari kakaknya yang berusaha menghibur hati Siska. Sudah rahasia umum kalau Leo seorang Don Juan, dan dia memang sengaja mendekati Siska untuk memenangi taruhan bersama teman-temannya. Siska terkenal sebagai gunung es yang sukar ditaklukkan. Jika Leo berhasil memenangkan hati Siska, prestasi Leo sebagai Don Juan akan semakin melejit. Siska jadi sakit hati setelah tahu akal busuk lelaki serigala itu dan berusaha menjauhinya, padahal pada saat itu cinta Leo sudah berubah tulus. Naas, setelah itu malapetaka semakin sering menghujani Siska.

Dari sinopsis di atas kita bisa menyimpulkan, bahwa ‘dekapan’ dalam lirik adalah dekapan Leo saat dia mencoba menghibur hati Siska. Kata ‘musim’ juga tidak merujuk kepada pergantian cuaca melainkan rentetan peristiwa yang dialami Siska. Korelasi kuat antara lirik lagu dan film akan semakin terlihat jika kita menyimak lirik selanjutnya:

Kini semua bukan milikku / musim itu telah berlalu

Matahari segera berganti

Siska yang sudah kehilangan Leo menjadi semakin putus asa. Penderitaan yang dia alami hampir saja membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap lelaki, sampai Helmi mendekatinya. Helmi adalah seorang manajer klub malam ternama. Dia mengancam akan memberi tahu ibu Siska yang memiliki jantung lemah, bahwa selama ini ayah Siska telah berselingkuh dengan seorang gadis dari klub malamnya. Khawatir ibunya akan sangat terkejut mendengar kabar ini dan bisa berakibat kematian, Siska terpaksa menerima lamaran Helmi. Masa-masa singkat yang pernah dilalui bersama tunangannya, kenangan manis bersama Leo bagaimana dia selalu bisa menghibur dan membahagiakannya dengan gaya-gaya jenaka yang serba tak terduga, semua sirna. Musim itu telah berlalu, dan Siska masih terus berharap akan terjadi suatu keajaiban nantinya.

Harapan Siska terwujudkan dalam kalimat matahari segera berganti. Matahari sering disebut-sebut sebagai simbol maskulin, sedangkan bulan adalah lawannya. Para penyair sering menyebut bulan sebagai simbol untuk merujuk kekasihnya, meski simbol tersebut sudah kadaluarsa karena banyak penyair yang mengungsi dari dunia anggur dan rembulan. Jika matahari diibaratkan sebagai simbol kekasih pria, maka kalimat ‘matahari segera berganti ‘benar-benar pantas untuk menggambarkan keadaan Siska yang berhasil cerai dari Helmi dan kembali ke dekapan Leo. Pantas saja Rolling Stones Indonesia mengkritik lagu ini lebih pantas dinyanyikan seorang wanita daripada pria. Meski tidak dinafikan, penderitaan yang dialami Chrisye juga tidak jauh dari cerita di balik lirik lagu Badai Pasti Berlalu.

Kesuksesan Chrisye sebagai musisi tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya yang naik turun. Untuk benar-benar mengabdi pada dunia musik dia rela keluar dari Trisakti. Mulanya Chrisye juga bukan seorang vokalis, melainkan pemain bass. Dia harus rela memainkan lagu-lagu kover selama setahun di New York saat bergabung dengan band Gipsy, dan betapa depresinya dia karena tidak bisa mengekspresikan bakat bermain musiknya dalam lagu-lagu orisinil. Beberapa tahun setelahnya, kakaknya Vicky meninggal karena infeksi lambung. Chrisye tidak henti-hentinya menangis dalam penerbangan kembali ke Tanah Air. Tidak lama kemudian, Amin Widjaja, orang pertama yang mengantarkannya menjadi artis Musica Studios, juga meninggal. Sebuah album Percik Persona pun tercipta sebagai memento atas jasa-jasa Amin.

Kehidupan rumah tangganya juga penuh dengan pasang surut. Dalam wawancara di salah satu siaran musik, pernikahannya dengan sekretaris Guruh, adalah hari yang paling membahagiakannya seumur hidup. Dia berhasil menikahi satu-satunya wanita yang dia cintai, Yanti. Tak disangka, rumah tangganya juga sering sekali mengalami kesulitan finansial. Keadaan mulai berubah saat dia mulai berkolaborasi dengan Erwin Gutawa dan meluncurkan album Kala Cinta Menggoda. Meski berulang kali Chrisye tersungkur menangis setiap hendak menyanyikan salah satu lagunya yang berjudul Ketika Tangan dan Kaki Berkata gubahan lirik Taufiq Ismail yang terinspirasi surat Yasin ayat 65.

Tiga tahun setelahnya, album Badai Pasti Berlalu didaur ulang atas permintaan dari Musica Studios. Sekali lagi Chrisye berkolaborasi dengan Gutawa dan mengundang Victorian Philharmonic, sebuah orkes ternama dari Australia sebagai pengiringnya. Album itulah yang semakin mengharumkan namanya di kancah musik internasional. Chrisye semakin sering diundang untuk manggung di pelbagai tempat di seluruh Indonesia, padahal tidak lama sebelumnya Chrisye ingin pensiun dari dunia musik meski berulang kali pula Yanti terus menghibur dan menasehatinya agar tidak mudah menyerah. Selama ada usaha, di situ ada jalan. Memang badai pasti berlalu.

Facebook Comments
Bagikan konten: