Apakah Aku Rumah Saat Kau Gelisah Karena Kehujanan di Tengah Perjalanan?

Bagikan konten:

DAUN kering yang kami injak berbunyi seperti tulang patah. Tampaknya pohon kersen di depan rumah Pak Handaka mulai berguguran. Biasanya ada tukang kebun yang membersihkan dedaunan kering ini, mungkin ia sedang tidak enak badan. Asal kau tahu, aku tidak nyaman dengan suara gemerisik yang berlebihan. Tapi Retno, istriku, tampak tidak keberatan. Ia malah melompat riang seperti anak kami yang mati tujuh tahun lalu. Ia sengaja menghentakkan kakinya ke daun-daun malang itu, menyepakinya, tertawa pelan di tengah suara serupa remuk rempeyek, terkadang menoleh padaku dengan wajah yang sumringah. Aku harap ia tidak terjatuh.

Tidak. Ia tidak gila. Mungkin sempat terlintas di benakmu bahwa kematian anak kami membuatnya tidak waras. Tapi tidak. Ia baik-baik saja sekarang. Lagipula itu sudah lama sekali terjadi. Aku bahkan hampir lupa apakah benar-benar terjadi tujuh tahun yang lalu. Aku mengatakan tujuh hanya karena dalam ajaran agama kami angka tujuh sering digunakan, tujuh langit, tujuh bumi, tujuh surga, tujuh neraka, tujuh batang ganjaran kebaikan. Jadi jangan khawatir, aku tidak akan membosankanmu dengan cerita tentang kondisi pasca-trauma seseorang setelah ditinggal mati yang terkasih.

Soal Retno yang melompat-lompat seperti anak-anak itu kebiasaannya sejak kecil. Setelah dewasa ia tetap sering melakukannya bersama Askara, mendiang anak kami. Memang lebih tidak memalukan jika ia melakukannya bersama anaknya, tapi sekarang aku tidak keberatan. Toh ia hanya melakukannya ketika jalan-jalan sore di sekitar perumahan. Genangan air hujan, rontokan daun kering, selalu menjadi sasaran tingkah isengnya. Dan setelah menemaninya jalan-jalan blok, seringkali aku harus pulang dengan konsekuensi setimpal tergantung musimnya, kaus yang basah sekitar Oktober sampai Februari atau rambut penuh daun kering sekitar Maret sampai September.

“Sam!” Tangan Retno meraup setumpuk daun kering, menatapku sambil tersenyum lebar. “Buat makan malam.”

Apa kau sudah gila, istriku?

Kemudian ia melemparkan dedaunan di tangannya ke udara, bak penjudi yang baru menang banyak. Aku berlari kecil, mendekatinya. Ia agak jauh di depanku.

“Sudah main-mainnya.” Aku menyapu pakaian dan rambutnya. Kebanyakan daun-daun kuning itu keras kepala menempel di sekujur tubuhnya.

Retno menghentikan sapuan tanganku.

“Kenapa, Sam?”

“Bikin malu,” jawabku tenang.

“Itu yang bikin kau khawatir?”

Aku diam saja.

“Merasa sudah tua, jadi banyak diam?” Ia berbalik arah dan mulai berjalan. Aku mengikutinya.

“Bukan begitu.”

“Sudah sekian tahun, Sam. Kau tidak segera berubah.”

“Tidak berubah bagaimana?”

Aku mempercepat langkah menyusulnya. Setelah sampai di sampingnya langkahku berubah santai, menyamai jalannya yang lambat.

“Kau selalu diam.” Ia makin cemberut sedang aku tak menyahuti. “Kita sudah tua, jangan banyak mendam. Nggak sehat.”

Kami berjalan dalam diam. Sesekali Retno memandangi rumah-rumah penghuni blok yang tidak kami kenal. Hanya Pak Handaka yang lumayan kami kenal, itu pun karena kebetulan ia adalah klien di perusahaan asuransi tempat aku bekerja. Banyak orang kaya yang memilih membeli rumah di sini, hanya blok ini. Mereka jelas tidak berniat untuk berhemat. Bayangkan saja ada satu rumah bergaya Victorian, meski tidak terlalu besar. Terserah mau percaya atau tidak. Mungkin lebih masuk akal jika berwujud rumah-rumah peninggalan Belanda, bisa jadi diwarisi nenek moyangnya yang terdampar di tanah ini berabad lalu. Sedang lainnya kebanyakan berupa rumah-rumah minimalis modern yang tak kalah mahalnya. Terlebih ada taman memanjang dari awal sampai ujung komplek yang sedap dipandang. Makanya blok ini menjadi favorit kami untuk jalan-jalan sore.

Blok tempat kami tinggal, atau mengontrak lebih tepatnya, tidak banyak yang bisa dilihat. Hanya rumah-rumah kecil yang maksimal dua lantai tanpa pekarangan, ada pun teras kecil seukuran satu motor bebek yang segera dibatasi pagar besi kecil-kecil hasil las-lasan bengkel serba bisa depan perumahan. Di antara rumah-rumah itu, rumah kami tampak cukup mewah oleh pintu garasi yang mentereng di balik pagar besi yang murahan dan teras yang sempit. Karena belum lama masuk perusahaan asuransi yang bisa memberi gaji cukup besar per bulannya, aku memang masih menabung untuk membelikan Retno rumah yang lebih layak. Mungkin tidak di komplek ini. Setidaknya kami bersyukur jalanan blok kami tidak sesempit teras rumah-rumah para penghuninya sehingga mobil kami masih bisa lewat setiap aku berangkat dan pulang kerja.

“Banyak kerjaan di kantor,” kataku akhirnya.

“Sekarang ‘kan akhir pekan. Waktunya bersantai.”

“Banyak tugas. Banyak pikiran.”

“Aku juga banyak tugas, Sam.”

“Kau enak kerja dari rumah saja.”

“Apa tugas mengedit naskah yang bertumpuk-tumpuk itu tampak mudah bagimu?”

“Mudah saja.”

“Enak saja.”

Jeda.

“Pasti ada hal lain. Iya, kan?” Retno melangkah cepat ke depan dan berbalik ke arahku, menghalangi jalanku.

Aku berhenti.

Ia mematung. Wajahnya terangkat, menangkap mataku.

“Tidak ada, Ret.” Ia masih mengejar mataku.

“Klien yang aku tangani membatalkan deal penting dengan perusahaan.” Aku meneruskan setelah mendesah pelan.

“Itu saja?”

“Itu saja.”

“Aku tidak percaya.” Ia membalikkan tubuhnya, berjalan lagi.

Aku menyusul. Kami membelok, sudah sampai di ujung blok. Saatnya memutar, melewati dua pohon mahoni besar yang tumbuh di tengah taman yang membagi dua sisi blok ‘orang-orang kaya’ ini. Di sepanjang taman ada beberapa pohon kenanga dan dua pohon kersen, musim kemarau menggugurkan dedaunannya. Kecuali pohon beringin yang berada tepat di tengah blok. Pohon itu tampak tangguh dan angker. Dedaunan yang begitu rimbun dan akar-akar gantung yang menjuntai membuatnya tampak purba. Orang-orang blok kami sering berasumsi soal pohon beringin itu. Kata mereka pohon itu tempat dedemit peliharaan orang-orang kaya bersarang. Aku hanya tertawa mendengarnya. Aku tidak percaya. Begitu juga Retno.

Kami dua orang yang sama. Kami tidak percaya perihal takhayul ataupun perkara mistis. Tapi kami tetap taat beragama. Kami agak moderat soal itu. Kami menjunjung tinggi ilmu pengetahuan sambil tetap merawat ritual keagamaan kami. Agak susah mencari yang seperti itu di zaman ini. Kami sesungguhnya bersyukur saling menemukan satu sama lain. Selain itu, kami juga punya selera bacaan dan tontonan yang mirip. Meski waktuku banyak tersita di kantor, Retno yang editor sebuah penerbit kota membantuku untuk update buku-buku bagus. Lalu setiap akhir pekan kami selalu menyempatkan menonton film-film asing yang kurang populer, biasanya dari negeri-negeri Eropa Timur atau tepian Mediteranian, hampir satu-satunya jenis film yang membuat kami fokus menonton bersama bukannya mengobrol atau malah bercinta karena bosan.

Beberapa waktu setelah Askara meninggal, kami sempat meninggalkan agenda mingguan itu. Lalu hanya selang hitungan bulan—mungkin, karena lagi-lagi aku tak begitu ingat—kami sudah kembali menjalaninya. Oleh sebab sudah terlanjur menjadi kebiasaan dan juga disiksa kehilangan yang kelewat perih, kami tetap berupaya bersenang-senang berdua. Meski mulai menjadi tidak rutin setiap pekannya sejak aku bekerja di perusahaan asuransi tahun lalu.

Terlepas kami pernah tertimpa petaka dan menjalani dukanya, kami tetap pasangan yang ideal. Obrolan yang nyambung, tidak harus sering berdebat oleh perbedaan pendapat, membuat kami seharusnya hidup damai-damai saja.

Mungkin kau akan bertanya-tanya mengapa terasa ada yang janggal di antara kami hari ini? Jangankan kau, aku saja bertanya-tanya. Setidaknya mengapa saat ini? Dan mengapa sangat sepi di blok ini? Pasti kau tidak heran, orang-orang kaya memang jarang sekali melakukan rutinitas ‘bertetangga’. Mungkin sesekali saat harus saling menghadiri perayaan ulang tahun anak-anak mereka. Apa mereka semua berlibur keluar kota? Di akhir pekan biasa, setidaknya ada tangisan anak kecil, terkadang ada sesenggukan orang dewasa saking sepinya sampai terdengar. Tapi sore ini hanya ada suara daun kering tertiup angin dan menggesek aspal, dan dengungan mencurigakan dari dalam pohon beringin yang rimba itu. Mungkin ada sarang lebah.

Aku minta maaf. Sepertinya aku agak menyesatkanmu sejak awal bercerita. Aku sengaja mengatakan semuanya baik-baik saja. Istriku baik-baik saja. Aku tidak ingin kau berburuksangka kepada kami dan menduga kehilangan anak membuat kami juga kehilangan keharmonisan. Tenang, tidak sebegitunya. Kami baik-baik saja, kami sudah melupakannya. Sudah berusaha. Kami bahkan beberapa kali sepakat membuat momongan baru, meski kemudian tidak jadi setiap Retno berencana mencopot alat kontrasepsinya. Terkadang mendadak aku harus ke kantor pusat di luar kota selama seminggu, atau Retno mesti mengisi seminar kepenulisan yang diadakan penerbitnya sampai berhari-hari. Pada kesepakatan lain, tiba-tiba Retno diam saja seharian, semalaman, sampai mood kami hilang. Atau sebaliknya. Kadang bisa dimaklumi, kadang tak beralasan.

Tak apa. Upaya-upaya itu sudah bertahun lamanya tidak kami bicarakan lagi. Kami baik-baik saja. Setidaknya istriku, entah sejak kapan. Ia tiba-tiba berhenti bersedih. Sedangkan aku? Mana bisa aku melupakan buah hatiku. Baiklah. Tidak. Aku tidak baik-baik saja.

Hanya saja kisah ini bukan tentangku. Nanti seandainya ada orang lain yang bercerita tentang Retno padamu, kau mungkin akan tahu mengapa.

Tapi kalau kau penasaran tentangku, aku beritahu sedikit. Aku sudah beberapa bulan mendiamkan istriku. Setidaknya untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak mendesak. Diamku bukan tanpa alasan. Bayangkan saja, bagaimana bisa ia melupakan anaknya semudah itu? Ia seringkali tertawa bahagia tanpa aku candai. Ia selalu dalam mood yang baik meski aku selalu cemberut. Ia masih bermain dengan daun-daun kering meski aku sudah ketus terhadapnya. Ada apa dengannya? Sepuluh tahun pernikahan tak membuatku semakin mengenalnya.

Jika kau berpengalaman soal ini, terutama yang sudah menikah lama sejak masih muda sekitar umur duapuluhan, tolong beri masukan setelah aku selesai bercerita.

Beberapa malam terakhir aku memergokinya whatsapp-an sambil senyum-senyum. Apalagi semalam, aku sengaja memeriksanya yang begadang di kantor pribadinya di lantai dua rumah kontrakan kami. Ia tak menyadari kehadiranku di pintu kantornya yang terbuka. Sembari menghadap laptop yang kukira ia hanyut dalam lautan naskah, ia malah melamun. Sesekali mengecek handphone-nya dan tersenyum. Aku memerhatikan matanya menghadap lembaran Ms. Word tapi tidak membacanya.

Meski begitu ia tidak pernah absen melayaniku. Membuatkan sarapan dan semua waktu makan lainnya, mencuci dan menyeterika pakaianku, memberiku buku baru, sampai memuaskanku di ranjang. Semuanya dalam sikap yang baik, kata yang santun. Kewajaran itu menghantuiku. Karena perhatiannya untukku tidak sampai ke hatiku. Tapi aku terlanjur berjanji untuk memercayainya. Kami tidak boleh saling mencurigai. Oleh karena itu aku diam. Lagipula, lubang di hatiku yang sibuk aku jahit tiap harinya membuatku tak sempat menyelidikinya.

Sore ini ia tampak menyadari keganjilan sikapku. Ah tidak juga, ia pasti sudah menyadarinya sejak lama. Tetapi sore ini, ia menanggapi diamku, menanyaiku. Aku cukup terkejut. Aku sempat berpikir apa semua yang aku khawatirkan akhir-akhir ini tak ada artinya. Mungkin saja Retno memang benar-benar sudah melupakan Askara, dan bukankah itu hal yang baik? Mungkin juga sudah saatnya untukku bergerak maju, berpikir ke depan, melupakan yang sudah-sudah. Tujuh tahun, sepuluh tahun atau malah lima tahun tak ada bedanya.

Untuk sesaat, aku terlempar ke suatu malam. Aku bisa melihat wajah Retno menatapku tak percaya. Ada kemarahan, kekecewaan dan kesedihan di situ, tergambar seperti sapuan kuas yang asal-asalan. Aku bisa melihat tubuh kecil Askara terbaring di lantai. Genangan darah melebar dari kepalanya.

Setelah sekian kali terlempar ke sana, sekarang aku tak kesulitan untuk kembali. Mungkin sudah terbiasa. Dulu aku bisa benar-benar tak bergerak sampai setengah jam, atau bahkan pingsan sampai berjam-jam. Aku membuka mata. Retno sudah agak jauh berjalan di depanku, ia tampaknya tidak sadar. Aku segera menyusulnya, kembali menyamai langkahnya. Berjalan di sampingnya.

“Ret?”

“Ya?”

“Apa kau sudah melupakan Askara?”

Sunyi.

“Ret?”

“Apa aku tampak begitu, Sam?”

“Ah, tidak. Hanya saja…”

“Kenapa?”

Sunyi.

“Kenapa kau berkata begitu, Sam?”

“Tidak. Tidak sepantasnya aku bertanya begitu. Kau seorang ibu yang baik, Ret.”

“Lantas?”

“Kau tak akan melupakan anakmu.”

“Baguslah.”

Sunyi.

“Sam?”

“Ya?”

“Jangan sekali-kali menanyakan itu lagi padaku. Oke?”

“Oke. Maaf.”

“Tak apa.”

Kami berjalan dalam diam untuk beberapa saat. Satu blok sudah hampir habis. Aku tidak tahu ia ingin berputar lagi atau ingin pulang saja.

“Sam, jangan diam saja.”

“Ah, maaf. Kau ingin berputar lagi atau pul…”

“Pulang saja.”

“Baiklah. Ayo.”

“Kau seperti tidak mengenalku saja, Sam.”

“Aku sudah mengenalmu sejak kita belum bertemu.”

“Jangan macam-macam, Sam. Kau tidak pernah bicara seperti itu.”

“Aku serius. Hei, dengarkan.”

Ia mengangguk.

“Kau tahu bagaimana aku mengenalmu sebelum kita bertemu?”

Ia menggeleng.

“Waktu bigbang terjadi, semua atom di alam semesta bertubrukan menjadi satu titik kecil yang meledak. Jadi, atomku dan atommu pasti sudah sering bertubrukan pada saat itu hingga 13,7 miliar tahun kemudian.”

“Serius? Kau mengutip dari film? Ian Grey-nya I Origins?” Retno tertawa pelan.

“Tentu saja. Itu film favorit kita. Bayangkan, sepasang saintis menemukan bukti ilmiah adanya reinkarnasi.” Aku tersenyum.

“Kau tidak percaya reinkarnasi, Sam.”

“Tentu saja, itu tidak ada dalam keyakinan kita.”

“Tidak. Maksudku, walaupun itu keyakinanmu, kau tetap tidak akan percaya.”

Kami tertawa terbahak sembari keluar dari blok ‘orang-orang kaya’ ini.

“Ret, kau ingat dulu waktu kita kehujanan di tengah jalan pulang dari pesta peresmian kantor baru penerbitmu itu? Ingat kita belum punya mobil dan masih naik motor butut itu?”

Ia mengangguk. “Kau lupa bawa mantel, Sam.”

“Apa yang kau pikirkan saat kita berteduh di warung makan yang tutup itu?”

“Apa lagi, Sam? Kita basah kuyup. Tentu saja rumah. Ingin segera sampai di rumah.”

Aku ingin bertanya padanya, apakah aku rumah saat ia gelisah karena kehujanan di tengah perjalanan. Tapi tidak jadi.

***

MEREKA berdua baru saja selesai bercinta. Mereka bersandar di punggung ranjang. Tidak saling berdekatan, mereka berada di masing-masing sisi ranjang. Di bibir mereka masing-masing terselip sebatang rokok. Asapnya segera memenuhi ruangan yang tak seberapa. Mereka tak bergerak sama sekali. Karena sedikit saja gerakan, ranjang butut itu akan berderit.

Pencahayaan di ruangan kecil itu hanya temaram. Tapi terlihat separuh tubuh mereka yang tak tertutup selimut berkilat oleh keringat. Mereka tampak santai, pakaian yang mereka tanggalkan masih tergeletak di lantai. Beberapa di atas kasur, bercampur dengan seprai yang acak-acakan.

Si lelaki menoleh, meletakkan tangannya dengan pelan ke bahu si perempuan. Mengusap-mengusapnya lembut.

“Kau tampak memikirkan sesuatu, Ret.” Tangan si lelaki terhempas pelan, tampaknya si perempuan menggoyangkan bahunya. “Kau baik-baik saja?”

Retno tidak menoleh balik. Ia tetap menghadap lurus, ke lukisan buruk yang menempel di dinding kasar di hadapannya. “Roy,” ia menghisap rokoknya perlahan, “bisakah malam ini kita tidak bicara?”

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan