Aku Sudah Tak Lagi Mengenal Bau Tubuhmu

Bagikan konten:

Aku sudah meminum obat diare, tapi perutku tak juga membaik. Sudah berkali-kali aku bolak-balik kamar mandi hingga aku merasa begitu payah. Aku jadi penasaran apakah teman-temanku juga mengalami hal yang sama setelah makan bakso mercon di kantor tadi siang. Dari story Whatsapp, nampaknya mereka baik-baik saja. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyinggung perihal diare.

Sebenarnya aku sudah tak lagi memusingkan soal diare. Sekarang aku lebih memikirkan arti dari status istriku di strory Whatsapp-nya. Dia menulis seperti ini: aku sudah tak lagi mengenal bau tubuhmu. Apakah ia tahu aku pergi keluar bersama wanita lain? Pasalnya baru kemarin tiba-tiba Linda memelukku setelah ia bercerita tentang perjuangannya menjadi janda muda dengan anak umur dua tahun.

Aku senang mengobrol dengan Linda. Selain pendengar yang baik, Linda adalah wanita yang cerdas dan kritis. Ia bekerja di bagian marketing di kantor penerbit tempatku bekerja. Terkadang ia merensensi buku-buku yang kami terbitkan dan tulisannya itu diterbitkan di koran lokal. Ada bagian dari diri Linda yang mengingatkan pada istriku sebelum ia sibuk dengan novelnya yang kalau tidak salah akan diberi judul Purnama Terakhir. Novel itu adalah pemicu yang membuat kami sering bertengkar dan akhirnya membuat kami tak lagi saling berbicara. Semenjak itu, dari story Whatsapp lah, aku mengetahui apa yang tengah dikerjakan istriku, apa yang ia pikirkan dan apa yang sedang ia risaukan.

Tapi aku berani bersumpah, aku tak pernah melakukan hal macam-macam dengan Linda. Kami hanya makan siang lalu mengobrol. Walaupun dari sorot kedua matanya seakan Linda tertarik dan menaruh harapan padaku, tapi ia tetap bisa menjaga sikap. Pelukan kemarin adalah pengecualian.

Dari dalam kamar, aku bisa mendengar suara ketik keyboard dari ruangan sebelah. Setelah jam sepuluh malam istriku memang tak pernah menutup pintu ruang kerjanya. Ia sengaja melakukannya agar aku tahu usaha keras yang ia lakukan untuk merampungkan novelnya itu. Ia baru akan masuk kamar setelah jam satu pagi ketika aku sudah jatuh tertidur.

Awalnya istriku memang suka menulis cerita-cerita pendek, tapi aku tak pernah mengira ia akan menulis sebuah novel dan bersikeras untuk menerbitkannya. Sudah dua minggu ini, ia sering menghabiskan waktunya di dalam ruangan kerjanya. Ia bahkan mempunyai rencana untuk berhenti sementara sebagai guru di sekolah PAUD tempatnya bekerja. Ia menulis tentang rencananya itu di story Whatsapp-nya empat hari lalu.

Aku bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah pintu. Aku ingin memastikan bau jaket yang aku pakai ketika bertemu Linda kemarin. Aku terhenyak. Jaket yang tergantung di belakang pintu itu sudah berubah posisi. Seingatku, aku menggantungkan jaketku di bawah celana jean, bukan sebaliknya. Aku mengambil jaket itu kemudian mengendusinya.

Ada bau parfum Linda di sana. Karena tak percaya atau lebih tepatnya tak ingin percaya, aku kembali mengendusi jaket itu. Dengan susah payah aku menelan ludah. Tiba-tiba aku berkeringat dingin. Aku duduk di tepi ranjang, masih memegang jaket yang berbau Linda itu.

“Jangan berpikir macam-macam. Sarah tak tahu itu bau Linda. Bisa saja bau itu milik teman lelakimu di kantor. Siapa saja bisa memiliki bau seperti itu,” ucapku pada diriku sendiri.

“Apakah ada bau lelaki yang selembut itu?” bantah diriku yang lain.

Aku segera mengambil handphone dan melihat kembali status Whatsapp Sarah. Ia meng-upload statusnya jam tujuh pagi sebelum aku berangkat ke kantor. Aku mencoba mengingat-ingat bagaimana sikap Sarah kepadaku tadi pagi. Semua baik-baik saja. Ia tidak menunjukkan geliat berbeda ketika membangunkanku, menyiapkan pakaian dan sarapan untukku. Sejak dua minggu terakhir, memang tak pernah ada kehangatan di dalam rumah. Sarah melayaniku seperti halnya seorang pembantu melayani majikannya: formal dan kaku.

Setelah memikirkan beberapa pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk menemui Sarah di ruangan kerjanya. Aku menggantungkan kembali jaketku di tempat semula. Sarah terlihat khusyuk di depan layar laptopnya. Aku berdiri di depan pintu, memandangi kepala dan punggungnya. Rambut hitamnya ia biarkan terurai. Aku tak tahu Sarah memotong rambut panjangnya sampai sependek bahu. Jemari tangannya bergerak-gerak begitu bersemangat di atas keyboard.

“Kamu terlihat bergitu bersemangat. Apa novelmu akan selesai malam ini?”

Sarah terlihat terkejut dan spontan menoleh ke arahku. Ia terlihat cantik dengan rambut pendeknya itu.

“Maaf, aku tak bermaksud mengagetkanmu,” ucapku lagi sembari tersenyum ke arahnya.

“Apa kamu tidak bisa tidur karena diare?”

“Kamu tahu aku diare?”

“Berkali-kali kamu bolak-balik kamar mandi.”

“Aku sudah minum obat. Semoga saja cepat membaik.”

Sarah mengangguk-angguk. Setelah merasa tak ada lagi yang perlu diobrolkan, ia kembali menghadap ke layar laptopnya.

“Sarah?”

“Iya?”

“Apa kamu tidak ingin memperbaiki hubungan kita?”

Sarah menoleh ke arahku, menatapku sesaat sebelum akhirnya berkata, “memangnya apa yang perlu diperbaiki?”

“Kamu tahu apa yang aku maksud. Apa kamu tak ingin hubungan kita seperti dulu? Sudah dua minggu kita tidak saling menyapa. Kita hanya saling berbicara seperlunya seperti dua orang asing yang tak saling mengenal.” Aku berhenti sesaat. “Aku merindukanmu, Sarah.”

“Semuanya akan baik-baik saja seandainya kamu menerima novelku.”

“Aku hanya pegawai.”

“Kamu editornya dan kamu suamiku.”

“Kita sudah membahasnya, Sarah.”

Tiba-tiba perutku terasa mulas.

Sarah membalikkan badan dan kini ia duduk tegap menghadapku. “Kamu tidak pernah suka dengan cerita-cerita yang kubuat. Kamu tak suka dengan ending novelku di mana akhirnya Aryo dan Sinta bersatu.”

“Aku tak mempermasalahkan ceritamu yang berakhir bahagia. Aku hanya kurang setuju dengan caramu menyingkirkan Bagus, tunangan Sinta. Kanker otak? Dan akhirnya Bagus merelakan Sinta untuk Aryo? Sarah, kamu bisa memilih cara lain yang elegan.”

“Sampai sejauh mana seorang editor bisa mengusik ide penulis?”

Aku sudah tidak tahan lagi. Tanpa menanggapi pertanyaan Sarah, aku langsung berlari ke arah kamar mandi. Ketika membuka celana, sudah ada cipratan berak di celana dalamku. Sial. Selama duduk dikloset, kepalaku masygul oleh sebuah pertanyaan besar: apakah Sarah benar-benar tak mencurigaiku berselingkuh? Astaga, perutku terasa mulas sekali.

Ketika bangun tidur di pagi harinya, aku merasa masih berada dalam mimpi. Pasalnya, tiba-tiba Sarah bersikap lembut padaku. Ia kembali mengelus lembut kepalaku ketika membangunkanku, memberiku senyuman hangat dan memanggilku dengan panggilan sayang. Di meja makan, ia memandangiku menyantap sarapan dengan penuh kasih sayang. Ia juga membuatkan air jahe hangat untukku dan mengatakan bahwa menyeduh jahe manjur untuk mengobati diare. Sebelum berangkat ke kantor, ia kembali mencium punggung tanganku dan menungguku mencium keningnya seperti yang biasa kita lakukan sebelumnya.

Hari itu aku tidak fokus bekerja. Aku tidak bisa menyelesaikan deadline editan terjemahan novel Inggris yang seharusnya sudah aku selesaikan dua hari lalu. Untuk pertama kalinya setelah dua minggu, Sarah kembali menyebutku dalam status di strory Whatsapp-nya: semoga Allah terus melindungimu, suamiku sayang. Aku tak bisa sepenuhnya lega dan bahagia, karena aku belum bisa memastikan alasan di balik perubahan sikap Sarah yang begitu drastis.

“Mungkin ia memang sudah bisa memaafkanmu,” ucapku pada diriku sendiri.

“Kamu sudah tinggal bersamanya selama lima tahun. Sarah bukan tipe orang yang bisa mengalah terlebih dahulu seperti halnya ia tak bisa memendam rahasia lama-lama,” bantah diriku yang lain.

Hari itu aku juga membatalkan janji pertemuanku dengan Linda. Aku tak ingin mengacaukan kembali hubunganku dengan Sarah yang sudah mulai membaik. Aku mengatakan padanya ada editan yang harus aku selesaikan hari itu. Tapi tampaknya Linda tahu bahwa aku hanya mencari-cari alasan. Melalui chating Whatsapp, tiba-tiba ia meminta maaf karena telah memelukku sore itu. Ia terlalu terbawa emosi, katanya. Aku menjawabnya dengan singkat: tidak apa-apa.

Aku sempat takut bahwa sesampainya di rumah aku akan kembali mendapati Sarah yang ketus. Jika ia bisa dengan mudah berubah menjadi lembut, maka skenario sebaliknya akan sangat mungkin terjadi. Tapi ketakutanku tak terbukti. Sarah menyambut kepulanganku dengan hangat. Ia memasakkan beberapa jenis lauk spesial untuk makan malam. Sebelum makan, kami sempat berfoto selfie dengan memperlihatkan meja yang dipenuhi berbagai aneka makanan lalu Sarah meng-upload-nya di story Whatsapp: makan malam spesial bersama suami tercinta.

Sarah tak berhenti-hentinya menatapku seperti seorang ibu menatap bahagia putra kecilnya yang tengah lahap menyantap makanan. Aku menjadi canggung di hadapan istriku sendiri.

“Bagaimana dengan diaremu?” tanyanya.

“Sudah baikan karena air jahemu.”

Sarah tersenyum manis sekali. Ia sama sekali tak terlihat sudah berkepala tiga dengan rambut pendeknya itu.

“Sarah?”

“Iya?”

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu saja.”

“Kenapa kamu tiba-tiba berubah? Tolong jangan salah paham. Aku senang hubungan kita kembali baik seperti dulu. Aku hanya penasaran, apa kamu sudah memaafkanku?”

Sarah mengangguk.

“Kenapa?”

Wajah Sarah berubah sendu. Ia diam untuk beberapa saat. Tiba-tiba kedua matanya berkaca dan tak lama kemudian air matanya tumpah. Aku benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa, Sarah? Kamu bisa menceritakannya padaku.”

Ia mengusap air matanya kemudian memintaku untuk berjalan mengikutinya ke kamar. Sesampainya di kamar, dia memintaku duduk di ranjang selagi menunggunya mencari sesuatu di dalam lemari pakaian. Tak lama berselang, ia menyerahkan barang yang dicarinya itu kepadaku: celana dalam abu-abu.

“Ada apa dengan celana dalamku?” tanyaku bingung.

Sarah menunjukkan noda kuning di celana dalam itu. Aku ingat, aku memakai celana dalam itu semalam ketika aku tak sengaja berak di celana. Tapi aku masih tak mengerti apa hubungan celana dalam bernoda berak dengan perubahan sikap istriku.

“Aku tak mengerti, Sarah.”

“Ibu pernah bercerita padaku, sebelum meninggal dunia ayah sempat berak di celana dan beraknya susah dibersihkan walaupun sudah disikat dengan sabun berkali-kali. Kata ibu, itu tanda orang yang akan meninggal dunia tapi ibu tak menyadarinya ketika itu.”

“Jadi kamu mengira aku…” Aku tidak bisa menahan tawaku.

Sarah memukul bahuku pelan. “Aku tak sedang bercanda, Bayu.”

Aku tertawa sembari memelukku istriku yang menangis sesenggukan. “Aku benar-benar merindukanmu, Sarah.”

Setelah malam itu hubunganku dengan Sarah semakin membaik. Kami kembali seperti pasangan pengantin baru yang sedang berbunga-bunga. Sepulang dari kantor, aku akan duduk di samping Sarah di ruangan kerjanya, membantunya mengedit novel pertamanya. Kami saling bertukar ide dan saling menertawai kekonyolan ide masing-masing.

Sarah sudah tak keberatan dengan semua masukanku, bahkan ia rela merombak bagan novelnya; Aryo dan Sinta tidak akan bersatu karena Sinta tetap menikah dengan Bagus, pilihan kedua orang tua Sinta, walaupun Sinta tak pernah melupakan Aryo dan mimpi mereka berdua. Di setiap purnama, Sinta selalu bermunajat agar dipertemukan kembali dengan Aryo. Ia hanya ingin melihat wajah kekasihnya. Sedangkan Aryo, ia akhirnya bertemu dengan wanita lain yang juga dicintainya.

“Jadi sekarang kamu mau menerima novelku?” tanya Sarah dengan kedua mata yang berbinar.

“Aku yang akan mengedit dan membuat ilustrasi sampulnya sendiri.”

Aku menyelesaikan proses editing novel itu dalam waktu yang sangat singkat. Aku sangat antusias seakan novel itu adalah novelku sendiri. Setelah selesai mengedit di kantor, aku tak langsung pulang. Aku dan Sarah sudah membuat janji untuk merayakan hari ulangtahunku dengan menonton film di bioskop salah satu mall ibukota. Ia ingin berangkat sendiri. Katanya, ia sudah menyiapkan sebuah kejutan untukku.

Aku duduk di Starbuck sembari menunggu kedatangan Sarah. Tiba-tiba gedung mall berguncang, diikuti oleh suara sirine dan teriakan orang-orang yang berlari ketakutan. Aku ikut berlari dengan panik hingga handphoneku terjatuh. Aku baru menyadarinya ketika aku hendak menghubungi Sarah. Keadaan benar-benar kacau. Orang-orang berdesak-desakan, saling sikut dan pukul, mencari pintu keluar terdekat.

“Apa ada gempa?” tanyaku kepada seorang pria tua berparas China yang tak henti-hentinya mengucap nama Yesus.

“Ada serangan teroris. Semoga Tuhan menyelamatkan kita semua.”

Kedua kakiku menjadi lemas, tapi aku tidak punya waktu untuk menangis ataupun meratap. Beberapa orang mendorongku dari belakang dengan tidak sabar hingga membuatku hampir jatuh tersungkur. Orang China itu sudah tidak ada di sampingku. Tidak lama kemudian, terdengar seseorang berbicara melalui speaker. Ia mengabarkan bahwa pelaku teroris masih berada di dalam gedung dan akan meledakkan bom kedua. Seketika keadaan menjadi semakin tak terkendali.

Di tengah keadaan yang kacau itu, aku melihat seorang wanita berambut pendek yang memakai kaos dan celana ketat serba hitam. Wanita itu tengah menaiki eskalator dengan menenteng sebuah tas jinjing yang juga berwarna hitam. Terlihat sebuah celana dalam abu-abu yang terselip di saku belakang celananya. Spontan aku memanggil wanita itu. Wanita itu menoleh, tapi aku tak sempat melihat wajahnya karena aku sudah terlebih dahulu terbangun.

Jantungku berdegup kencang. Aku meraih handphone yang terselip di bawah bantal. Angka masih menunjukkan pukul satu pagi. Rasa kantukku seketika menguap. Aku menuruni ranjang dan menuju ke ruangan sebelah. Di sana, aku mendapati istriku yang masih terlihat khusyuk mengetik di depan layar laptopnya.

Facebook Comments
Bagikan konten:

Tinggalkan Balasan